Tuesday, May 7, 2013

PERANG SALIB

Beberapa   peristiwa   mempunyai   pengaruh    yang    lebih
menggetarkan  dan  tahan  lama  pada hubungan Muslim-Kristen
daripada Perang Salib. Dua  mitos  meliputi  persepsi  Barat
mengenai  Perang  Salib:  pertama, kemenangan Kristen; kedua
bahwa Perang Salib  itu  dilakukan  hanya  untuk  pembebasan
Yerusalem.  Bagi banyak orang Barat, fakta-fakta khusus yang
menyangkut Perang Salib hanya diketahui secara samar-samar.[1]
Sebenarnya  banyak orang tidak mengetahui siapa yang memulai
peperangan itu, mengapa berperang, atau bagaimana peperangan
itu  dimenangkan. Bagi kaum Muslim, kenangan mengenai Perang
Salib itu tetap hidup, yang merupakan contoh Kristen militan
paling  jelas,  pertanda  awal agresi dan imperialisme Barat
Kristen, kenangan yang hidup akan  permusuhan  awal  Kristen
terhadap  Islam.Jika  banyak  orang menganggap Islam sebagai
agama pedang, maka kaum  Muslim  selama  berabad-abad  telah
membicarakan  ambisi  dan  mentalitas  Tentara  Salib Barat.
Karena itu, untuk hubungan  Muslim-Kristen,  hal  itu  bukan
merupakan masalah mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam
Perang Salib melainkan bagaimana hal-hal tersebut diingat.
 
Perang Salib (Crusades), yang namanya diambil  dari  "Cross"
(Crux  dalam  bahasa  latin),  merupakan  delapan  ekspedisi
militer yang terjadi sejak abad ke-11 hingga 13 yang membuat
orang-orang  Kristen  (tentara Kristen Franks) melawan Islam
(tentara Muslim Saracens). Abad ke-11 ditandai sebagai  saat
yang menentukan dalam hubungan Barat dengan dunia Islam.
 
Hingga   tahun   1000,   Barat   merupakan   daerah  miskin,
terbelakang, dan buta huruf. Mereka mempertahankan diri dari
serangan  bangsa barbar yang terjadi di darat dan di laut...
Selama empat abad, Islam mengalami  kedamaian  dan  keamanan
intern,  sehingga  mampu  membangun  kebudayaan  urban yang,
cemerlang  dan  mengesankan.  Kini  situasinya   benar-benar
berubah...  Perdagangan  hidup  kembali (di Barat), kota dan
pasar bermunculan; penduduk  bertambah...  seni  serta  ilmu
pengetahuan  mengalami  kemajuan  sedemikian rupa sejak masa
Kerajaan Roma.[2]
 
Bangsa Barat yang bangkit dari zaman  kegelapan,  mengadakan
penyerangan  untuk mengusir kaum Muslim dan Spanyol, Italia,
Sisilia,  dan  Mediterrania  pada  saat  dunia  Islam  telah
mengalami kemajuan dalam perjuangan politik dan agama.
 
Ketika  kekuatannya  dikalahkan  oleh  tentara  Abbasiyah di
akhir abad ke-15, Raja Byzantium,  Alexius  I,  yang  merasa
khawatir  bahwa tentara Muslim akan memenangkan seluruh Asia
dan  menduduki  ibukota  kerajaan,  Konstantinopel,  memohon
bantuan  Barat.  Ia mengimbau kepada sesama penguasa Kristen
dan Paus untuk mengusir kaum Muslim dengan "berziarah" untuk
membebaskan  Yerusalem dan sekitarnya dari tangan pemerintah
Muslim.  Yerusalem  adalah  kota  suci  bagi  ketiga   agama
berdasarkan ajaran Nabi Ibrahim. Kota tersebut telah direbut
oleh tentara Islam tahun 638 pada masa bangsa Arab melakukan
ekspansi  dan  penaklukan. Di bawah pemerintahan orang-orang
Muslim, gereja dan  penduduk  yang  beragama  Kristen  tidak
pernah       diganggu.      Tempat-tempat      suci      dan
peninggalan-peninggalan Kristen menjadi tempat  yang  selalu
dikunjungi oleh orang-orang Kristen. Orang-orang Yahudi yang
sejak lama dilarang tinggal di tempat  itu  oleh  pemerintah
Kristen, kini diperbolehkan kembali tinggal dan beribadah di
kota  Nabi  Sulaiman  dan  Nabi  Daud.  Orang-orang   Muslim
membangun  sebuah  tempat  ibadah,  Dome  of the Rock (Kubah
Batu)  dan  Al-Aqsha  di  dekat  The  Wailing  Wall  (Tembok
Ratapan),  sisa-sisa  terakhir  Istana Sulaiman, dan menjadi
tempat yang sangat khusus bagi  Yudaisme.  Lima  abad  hidup
berdampingan   dengan   damai   kini   porak-poranda  karena
perang-perang suci yang membuat  Kristen  berperang  melawan
Islam dan berakibat terciptanya perasaan tidak percaya serta
salah paham yang tak berkesudahan. 
Peperangan Salib itu dimulai dengan tanggapan Paus Urban  II
terhadap  permohonan  Raja  Alexius.  Pada tahun 1095, Urban
menyerukan pembebasan Tanah  Suci  dari  tangan  orang-orang
kafir,   dan  mengadakan  perang  suci  yang  sudah  menjadi
tradisi.  Bagi  Paus,  panggilan  untuk  membela  agama  dan
Yerusalem   memberikan  suatu  kesempatan  untuk  memperoleh
pengakuan atas otoritas  kepausannya  dan  peranannya  untuk
mengabsahkan  pemerintah  sementara, dan untuk mempersatukan
kembali gereja-gereja Timur (Yunani) dan Barat (Latin).
 
Seruan peperangan Paus -"Itulah kehendak  Tuhan!"-  terbukti
berhasil.  Pendekatan  agama  berhasil memikat pikiran orang
dan  memanfaatkan  kepentingan  diri  banyak   orang,   yang
menghasilkan persatuan dan kembalinya kekuatan Kristen. Para
pemerintah, pedagang, dan  ksatria  Kristen  terdorong  oleh
keuntungan-keuntungan  ekonomi dan politik yang akan dipetik
dengan tegaknya kerajaan Latin di Timur Tengah. Para ksatria
dari  Perancis  dan  bagian-bagian  lain  Eropa  Barat, yang
terdorong oleh fanatisme agama  dan  harapan  akan  pampasan
perang,  bersatu  melawan  orangorang  "kafir"  dalam  suatu
peperangan yang  tujuannya  adalah  membebaskan  kota  suci:
"Mungkin  Tuhan  memang  menghendakinya,  tetapi  yang pasti
tidak  ada  bukti  bahwa   orang-orang   Kristen   Yerusalem
mempunyai  harapan  itu,  atau  ada  sesuatu yang luar biasa
dalam sejarah yang tertadi pada jamaat di sana sehingga pada
saat itu mereka memberikan tanggapan yang demikian.[3] Perang
Salib diilhami oleh dua institusi Kristen, yaitu  ziarah  ke
tempat  suci  dan perang suci: pembebasan tempat-tempat suci
dari tangan  kaum  Muslim  berkarakterkan  keduanya.  Ziarah
memainkan  peran  penting bagi kesalehan Kristen. Mendatangi
tempat-tempat  suci,  menghormati  peninggalan  keramat  dan
melakukan   penebusan   dosa  memberikan  (orang-orang  yang
mengecam akan mengatakan "membeli") janji pengampunan  dosa.
Yerusalem,  pusat  lahirnya  Kristen, merupakan lambang kota
Tuhan, yang karenanya merupakan tempat suci. Pada waktu yang
sama, gagasan perang suci mengubah dan menyucikan peperangan
di abad-abad  pertengahan  beserta  gagasan  kehormatan  dan
keksatriaannya.   Para   pejuang  itu  menang,  baik  mereka
memenangkan peperangan  di  dunia  maupun  tidak.  Memerangi
musuh  artinya  terhormat  dan mulia, ganjaran yang diterima
oleh semua yang berperan dalam Perang Salib  berupa  jaminan
diampuni  dosanya  dan  masuk  surga.  Mati dalam peperangan
adalah meninggal sebagai pahlawan agama dan  langsung  masuk
surga walaupun mempunyai dosa-dosa di masa yang lalu.
 
Dalam   keadaan  terpecah-pecah,  reaksi  kaum  Muslim  yang
pertama tidak efektif; tentara Salib yang  pertama  mencapai
Yerusalem dan merebutnya pada tahun 1099. Namun keberhasilan
kaum Kristen tidak berlangsung lama: "Para pejuang  Salib...
lebih  merupakan gangguan daripada ancaman serius bagi dunia
Islam."[4] Pada pertengahan  abad   ke-12,   pasukan   Islam
menanggapi  secara  efektif.  Di  bawah kepemimpinan Saladin
yang mumpuni (Shalah  Al-Din,  wafat  1193),  salah  seorang
jenderal  dan  pemerintah  Muslim paling terkenal, Yerusalem
direbut  kembali  pada  tahun  1187.  Keadaan  berubah   dan
momentumnya tetap berada di tangan pasukan kaum Muslim. Pada
abad  ke-13,  Perang  Salib  telah  berubah  menjadi  perang
saudara  Kristen,  perang melawan musuh-musuh yang oleh Paus
dikatakan sebagai sesat. Akhirnya, sesuatu  yang  ditakutkan
yang  telah  menimbulkan  perang  suci  Kristen  itu, dengan
seruannya agar kaum Kristen bersatu untuk merebut  kekuasaan
kaum   Muslim,   terjadi  pada  tahun  1453  ketika  ibukota
Byzantium,  Konstantinopel,  jatuh  dan  diberi  nama  baru,
Istanbul,   yang   kemudian   menjadi   kedudukan   Kerajaan
Utsmaniyah. Impian penguasa dan tentara Muslim  yang  muncul
sejak  abad ketujuh menjadi kenyataan. Sebaliknya, ketakutan
kaum Kristen dan ancaman  Islam  yang  kuat,  ekspansif  dan
terus-menerus  makin  meluas  sampai  ke  Eropa  Timur, yang
sebagian besarnya dikuasai Kerajaan Utsmaniyah.
 
Warisan Perang Salib ini tergantung  pada  tempat  seseorang
berpijak  dalam  sejarah.  Kaum  Kristen dan Muslim bersaing
dalam visi dan kepentingan  serta  masing-masing  senantiasa
ingat  pada  komitmennya  terhadap  agama,  dan  kisah-kisah
kepahlawanan melawan kaum  "kafir."  Bagi  banyak  orang  di
Barat,  dugaan  mengenai  kemenangan Kristen didasarkan pada
sejarah  yang  diromantiskan  untuk  merayakan  kepahlawanan
pejuang     Salib     dan     juga    kecenderungan    untuk
menginterpretasikan sejarah melalui pengalaman  kolonialisme
Eropa  dari kekuasaan Amerika selama dua abad yang baru lalu
ini. Masing-masing agama  melihat  satu  sama  lain  sebagai
militan,  agak  barbaris  dan  fanatik,  cenderung menjajah,
mengubah atau memusnahkan yang  lainnya,  dan  itulah  suatu
halangan  dan ancaman bagi terealisasikannya kehendak Allah.
Pertentangan mereka berlanjut terus selama masa  Utsmaniyah,
melalui  arus  kolonialisme  Eropa,  dan  akhirnya  ke dalam
persaingan negara-negara adidaya pada abad ke-20.
 
Catatan kaki:
[3]: Peters, "Early Muslim Empires," hlm. 85.
[4]: Saunders, History, hlm. 161.
Sumber. 

No comments:

Post a Comment