KOMUNITAS ISLAM (UMMAH) Pentingnya hijrah, perpindahan Muhammad dan para sahabatnya dari Makkah ke Madinah, tidak dapat dianggap remeh. Hijrah merupakan permulaan lahirnya masyarakat Islam dan mempunyai makna religius dan historis yang luar biasa sehingga menjadi dasar dalam menulis sejarah Islam, tahun pertama penanggalan Islam. Kepindahan Muhammad ke Madinah menandai sebuah perubahan utama dalam sejarah dari zaman penyembahan berhala pra-Islam masa lampau ke dunia yang dibimbing oleh dan berpusat pada Tuhan di mana kesukuan dikalahkan oleh keanggotaan dalam suatu umat yang disatukan oleh iman yang sama. Masyarakat Madinah terdiri dari banyak golongan keluarga (klan), termasuk beberapa golongan keluarga Yahudi. Dalam beberapa waktu kemudian, Muhammad dapat mengkonsolidasikan kekuasaan dan wewenangnya, memasukkan keluarga-keluarga penyembah berhala kedalam Islam. Akhirnya Muhammad tidak hanya menjadi Rasul tetapi juga pemimpin masyarakat[1] Islam tidak mengenal adanya pemilahan antara agama dan negara, antara agama dan masyarakat, individu dan komunitas. Orientasi Islam dilambangkan dalam ayat Al-Quran: "Patuhilah Allah dan Rasul-Nya." Rasulullah menerima dan menyampaikan wahyu yang diterimanya yang membimbing dan juga tanggap terhadap dinamika sejarah umat. Pada waktu yang sama ia memperhatikan dan mengatur urusan-urusan negara, mengabdi sebagai pemimpin politik dan militer, hakim dan pembaru masyarakat. Agama merupakan sesuatu yang menyatu dalam kepemimpinan, kehidupan dan jaringan masyarakat, yang memberikan norma-norma ibadah (kewajiban terhadap Tuhan) dan kehidupan sosial (kewajiban terhadap masyarakat). Jika Islam berarti penyerahan diri terhadap kehendak Allah, maka kaum Muslimlah yang harus pasrah, yaitu mengikuti atau membenarkan kehendak Tuhan baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Madinah mencerminkan hubungan integral antara agama dan negara dalam Islam, suatu idealisme yang mempengaruhi pembangunan masyarakat Islam baik dulu maupun kini. Negara itu dipimpin oleh Muhammad, Rasul Allah, dan dibimbing oleh Wahyu Tuhan. Muhammad memegang peran-peran eksekutif, yudikatif dan legislatif sebagai kepala negara. Ia mengurusi masalah dalam dan luar negeri, masalah kemiliteran dan masalah pemungutan pajak, dan ia pun melerai orang-orang yang bertikai. Masyarakat Islam tidak hanya diwajibkan mengikuti peraturan dan perintah Tuhan, tetapi juga untuk menyebarkannya. Muhammad memadukan tindakan militer dengan diplomasi. Ia kembali ke Makkah disertai oleh kemenangan, dan pada tahun wafatnya, 632 Masehi, telah berhasil mengkonsolidasikan berbagai suku di Arab. Yang dibawa Muhammad lebih dari sekadar sintesis atau interpretasi gagasan agama dan adat-istiadat (Arab, Yahudi, Kristen) yang ada. Ia menciptakan suatu tatanan dan masyarakat yang baru. Suatu masyarakat yang religius dan politis (lebih tepatnya religiopolitis) yang berakar dalam dan dipersatukan oleh suatu visi atau ikatan agama.[2] Gagasan-gagasan dan lembaga-lembaga lama tetap dipergunakan tetapi disesuaikan dengan norma-norma Islam, dengan terciptanya cita baru akan identitas, solidaritas, komunitas dan wewenang. Jantung gerakan ini adalah "agama baru," pemahaman khusus mengenai arti dan implikasi visi monoteistik dan jalan hidup Islam; keesaan Tuhan yang transenden dan Mahakuasa; kehendak-Nya untuk mencipta, yang mempunyai dampak pada kehidupan pribadi maupun umum; perlunya kepatuhan kepada kehendak itu; misi setiap Muslim sebagai individu dan sebagai anggota umat beragama untuk merealisasikan dan menyebarkan peraturan Tuhan; dan kesempumaan serta kebenaran wahyu Al-Quran dan kenyataan bahwa Muhammad adalah Rasul terakhir. Visi inilah yang mengubah suku-suku di Arab dan menghasilkan perubahan besar dalam sejarah dan kebudayaan dunia. Catatan kaki: [1]: Karya standar mengenai hal ini adalah W. Montgomery Watt, Muhammad at Mecca (Oxford: Clarendon Press, 1953) dan Muhammad at Medina (Oxford: Clarendon Press, 1956). Kedua volume ini kemudian diterbitkan dalam versi ringkas, Muhammad Prophet and Statesman (London: Oxford University Press, 1961). [2]: Fred McGraw Donner, The Early Islamic Conquest (Princeton, N.Y.: Princeton University Press, 1981), hlm. 269ff | |
|
Sumber |
|
Tuesday, May 7, 2013
KOMUNITAS ISLAM (UMMAH)
MUHAMMAD: UTUSAN ALLAH
Al-Quran dan Muhammad memberikan sumber dan bimbingan suci bagi pembangunan agama baik di masa lalu maupun di masa sekarang. Kalau para pengikut Muhammad berpaling kepada Muhammad pada masa hidupnya, pada masa sekarang pun, orang-orang Muslim yang taat di seluruh penjuru dunia berpegang pada wahyu dan ajaran-ajaran Rasul dalam mengarahkan hidup mereka. Dilahirkan di Arab (kasarnya, sekarang, Arab Saudi) pada tahun 570 Masehi, Muhammad ibn Abdullah (570-632) mempunyai pengalaman agamais yang sangat dalam pada usia empat puluh tahun, yang mengubah dirinya dan mewujudkan umat yang kira-kira empat belas tahun kemudian menjadi agama terbesar kedua di dunia, dan mempunyai pemeluk yang berjumlah kira-kira satu milyar orang. Dibandingkan dengan kebanyakan nabi atau pendiri tradisi agama besar lainnya, yang kehidupannya tak terekam dalam sejarah, kehidupan Muhammad saw., Al-Quran dan hadis Nabi banyak dicatat dalam sejarah, dan sebuah biografi awal yang ditulis oleh Ibn Ishaq (wafat sekitar 768).[1] Bagaimanapun juga kita mengetahui sedikit tentang kehidupan Muhammad. Ia yatim sejak masa kanak-kanak, dan dibesarkan oleh sanak keluarganya. Sejarah Islam menceritakan bahwa ketika berusia 25 tahun, beliau menikah dengan seorang janda kaya. Khadijah adalah pemilik suatu kafilah yang dikelola Muhammad. Ia berusia lima belas tahun lebih tua daripada Muhammad. Karena cenderung kepada agama, Muhammad sering menyepi di suatu tempat yang sunyi untuk berpikir dan merenung. Pada tahun 610 di suatu malam yang diperingati oleh kaum Muslim sebagai Malam Kemuliaan (Laylatul-Qadar), Muhammad pemimpin kafilah menjadi Muhammad Rasul Allah, yang menerima wahyu pertama melalui Malaikat Jibril: "Bacalah, dengan Nama Tuhanmu yang telah menciptakan, menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmu Yang Maha Pemurah! Yang mengajar dengan Kalam, mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya!" (QS 96: 1-5). Wahyu yang turun antara tahun 610 sampai dengan 632, dikumpulkan dan ditulis kembali setelah ia meninggal dunia dan menjadi Kitab Suci umat Islam, Al-Quran. Sejarah Islam menggambarkan seorang Rasul yang pada mulanya bingung dan cemas yang, seperti rasul-rasul dalam kitab suci Yahudi, bingung karena apa yang dialaminya, cemas akan sikap orang-orang lain yang akan menerima ajarannya. Seperti ditunjukkan dalam sejarah nabi, orang-orang yang dikatakan sebagai pemberi peringatan atau utusan Tuhan tidak mengalami kehidupan yang menyenangkan. Para rasul yang mengutuk penyelewengan dan kekafiran masyarakatnya, dan yang menentang kebudayaan yang ada, seringkali mendapatkan ejekan, penolakan dan pengejaran. Muhammad pun tidak terkecuali. Selama sepuluh tahun, ia berdakwah menyampaikan misi agama dan perbaikan sosial di Makkah. Muhammad dan Al-Quran menyatakan keesaan Tuhan, menolak politeisme yang terjadi di Arab, dan melarang ketidakadilan sosial. Muhammad tidak mengatakan bahwa ia membawa agama baru tetapi hanya memurnikan dan mengembalikan agama yang dibawa Nabi Ibrahim. Misinya adalah memperbaiki dan meluruskan kembali umat yang menyeleweng. Seperti Amos dan Jeremiah sebelum dirinya, Muhammad adalah utusan Allah yang mengutuk kekafiran masyarakatnya dan mengimbau agar orang memohon ampun dan patuh kepada Allah, karena Hari Akhir itu dekat: "Katatanlah: 'Hai manusia, sesungguhnya aku adalah seorang memberi, peringatan yang nyata kepadamu.' Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia." (QS 22:49-50).
Muhammad menyeru kepada masyarakat Makkah untuk menyembah Tuhan Yang Satu dan membuang kepercayaan dan perbuatan-perbuatan yang bersilat politeistis. Negeri Arab tak asing terhadap monoteisme. Namun, ketika ada masyarakat Yahudi atau Kristen yang bercampur dengan orang-orang Arab asli yang menganut monoteisme (orang-orang Hanif), serangkaian panjang Tuhan mendominasi masyarakat Arab. Muhammad mengajak orang kembali kepada agama Ibrahim: percaya kepada Tuhan Yang Esa, Yang Menciptakan, Yang Memberi rezeki dan Yang Mengadili seluruh dunia. Muhammad dengan Al-Qurannya mengajarkan bahwa manusia diberi perhitungan dan mereka semua akan diadili dan akhirnya di Hari Pengadilan diberi pahala atau hukuman sesuai dengan apa yang mereka perbuat. Panggilan Islam adalah panggilan untuk berpaling dari jalan kekafiran dan kembali ke jalan yang benar (Syari'ah) atau Hukum Tuhan. Kembali ke jalan yang benar ini berarti menjadi anggota umat yang menyembah Tuhan sebenarnya, Yang Maha Esa, yang melaksanakan kehendak-Nya, yang menciptakan suatu umat bermoral benar. Pesan Al-Quran bukan hanya merupakan perintah agama saja, tetapi juga merupakan suatu tantangan terhadap politik sosial yang ada. Makkah bukan hanya pusat ibadah hati, tetapi juga merupakan pusat perdagangan, yang mengalami perubahan dari masyarakat suku yang semi-Badui ke masyarakat dagang urban. Al-Quran mengajarkan kepatuhan terhadap Tuhan dan RasulNya, persaudaraan antar sesama umat, berzakat kepada orang-orang miskin dan berjuang (jihad) melawan penindasan. Al-Quran mengutuk eksploitasi terhadap orang-orang miskin, anak-anak yatim serta kaum wanita; melarang penyelewengan, penipuan, berbohong, mengadakan perjanjian palsu dalam perdagangan, menghambur-hamburkan kekayaan dan bersikap sombong. Al-Quran juga menjanjikan hukuman yang berat terhadap perbuatan memfitnah, mencuri, membunuh, penggunaan racun, berjudi dan berzina. Pernyataan Muhammad bahwa dirinya nabi, penentangannya terhadap ketidakadilan dalam masyarakat Makkah, dan penegasannya bahwa semua orang yang beriman merupakan satu komunitas universal, meruntuhkan wewenang politik kesukuan. Penolakannya terhadap politeisme benar-benar mengancam kepentingan ekonomi penduduk Makkah yang mengontrol Ka'bah, rumah suci yang menjadi tempat patung-patung sesembahan suku dan merupakan tempat dilakukannya ibadah haji setahun sekali, sumber prestise dan pendapatan keagamaan masyarakat Makkah. Setelah sepuluh tahun, Muhammad merasakan keberhasilan yang terbatas. Jika diukur dengan standar duniawi ia dapat dikatakan gagal. Walaupun dilindungi oleh pamannya yang berpengaruh, Abu Thalib, dan oleh keluarganya, Bani Hasyim, ia sendiri kurang berkuasa dan berwibawa untuk mengatasi penentangan luas dari kaum aristokrat Makkah, yang dipimpin oleh kaum Quraisy, golongan pedagang yang dominan di Makkah. Pada tahun 619, dengan wafatnya sang paman dan istri, Muhammad kehilangan pilar-pilar yang mendukung dan melindunginya, dan menjadi semakin sendiri dan menderita. Kelompok pengikutnya yang hanya sedikit jumlahnya, satu demi satu dibunuh oleh orang-orang Makkah, yang menganggap kerasulan dan pembaharuan yang dilakukan oleh Muhammad, dengan kecaman-kecamannya yang tidak langsung terhadap status quo politik dan sosial ekonomi, sebagai tantangan terhadap kepemimpinan dan kepentingan mereka. Dengan alasan-alasan inilah ketika ia diundang oleh para pemimpin di kota terdekat, Madinah, sebuah kota oasis pertanian, untuk bertindak sebagai pemimpin di sana, ia dan kelompoknya segera berhijrah pada tahun 622 dan mendirikan sebuah masyarakat Islam (ummah) yang pertama di tempat itu. | |
|
Sumber. |
|
ASAL-USUL DAN SIFAT ISLAM
Walaupun asal-usul komunitas Islam itu dari Muhammad dan abad ketujuh, orang-orang Islam - seperti Yahudi dan Kristen - asal-usul tradisi agamanya (Islam) berasal dari Tuhan Yang Esa (Allah) melalui garis panjang kenabian. Dengan demikian orang-orang Islam menekankan bahwa tradisi Yudaeo-Kristen lebih tepat dikatakan sebagai tradisi Yudaeo-Kristen-Islam karena ketiganya merupakan putra-putra Ibrahim a.s., Nabi pertama yang menerima Wahyu Tuhan. Mereka sama-sama percaya kepada Nabi Ibrahim a.s., yang percaya kepada Tuhan, nabi-nabi wahyu, umat yang mengemban mandat Tuhan, dan tanggung jawab moral.[1] Jika asal-usul orang Yahudi dan Kristen dari Ibrahim dan Sarah melalui Ishaq, orang Islam pun demikian halnya melalui Isma'il, putra pertama Ibrahim dan Hajar. Kalau dalam kisah suci orang-orang Yahudi tercatat kemenangan monoteisme yang diturunkan kepada Adam, Ibrahim dan Musa dalam dunia politeistik, demikian juga dalam sejarah Islam terungkap proses yang sama dari monoteisme, kerasulan dan wahyu Tuhan yang tidak mengenal kompromi di kalangan lingkungan sosial politeisme kesukuan.[2] Kalau orang-orang Yahudi mempunyai Taurat, orang-orang Kristen mempunyai Injil, orang-orang Islam pun mempunyai Kitab Suci Al-Quran. Orang-orang Islam percaya bahwa Tuhan pertama kali menurunkan wahyu kepada bangsa Yahudi lalu kepada orang-orang Kristen, tetapi kemudian wahyu itu terdistorsi karena ulah manusia yang melakukan perubahan dan penambahan terhadap kitab tersebut yang mengakibatkan timbulnya kepercayaan akan inkarnasi, penyaliban, kematian dan kebangkitan Nabi Isa a.s. serta doktrin penebusan dosa. Bibel Yahudi atau Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru Kristen diyakini sebagai versi wahyu Ilahi yang sudah rusak. Kemudian Tuhan menurunkan wahyu sekali lagi kepada Muhammad, Nabi yang paling akhir. Inilah yang kemudian menjadi dasar kepercayaan orang-orang Islam bahwa Al-Quran, yang dipandang sebagai Firman Tuhan yang sempurna, lengkap, yang menggantikan kitab suci Kristen dan Yahudi. Catatan kaki: [1]: Untuk perspektif kesarjanaan Barat, lihat Francis E. Peters, Children of Abraham (Princeton, N.Y.: Princeton University Press, 1982). Untuk melihat teks dasar (basic texts) mengenai ketiga sistem religius yang ditempatkan sejajar dengan masalah-masalah umum ini, lihat Judaism, Christianity and Islam The Classical Text and Their Interpretation, oleh pengarang yang sama, 3 Jilid (Princeton, N.Y.: Princeton University Press, 1990). [2]: Sebagai pengantar untuk mengenali Islam sejak masa awal komunitas Muslim hingga sekarang, lihat John L. Esposito, Islam, the Straight Path, edisi yang diperluas (New York: Oxford University Press, 1991); Frederick Mathewson Denny, An Introduction of Islam (New York: Macmillan, 1985); Fazlur Rahman, Islam (Chicago: University of Chicago Press, 1979). Sumber. | |
|
|
|
Wednesday, April 3, 2013
ANTARA TIDUR DAN MATI
Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapa lama kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari”….
(Q.S. al-Baqarah [2]: 259).
Ayat di atas berkisah tentang seseorang yang dimatikan oleh Allah selama seratus tahun, yang lalu dihidupkan kembali. Ketika Allah bertanya, orang tersebut masih belum mengerti berapa lama ia dimatikan oleh Allah. Kisah yang hampir serupa digambarkan dalam sekelompok pemuda yang dikejar oleh penguasa dzalim kemudian mereka bersembunyi dalam sebuah gua dan memohon perlindungan kepada Allah. Sesaat kemudian mereka ditidurkan oleh Allah selama kurang lebih 300 tahun.
Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu) (Q.S. Al Kahfi [18]: 11-12).
Jalinan tulisan dalam artikel ini akan mencoba mengaji rahasia maut, dan juga batas antara tidur dan maut yang nyaris tipis. Maut tetap menjadi sebuah misteri yang belum terungkap hingga saat ini. Konon ada seorang ilmuwan dari Italia yang rela meneguk racun untuk mati sambil menuliskan gejala-gejala yang dialaminya. Sayang, maut mendatanginya sebelum catatan tersebut selesai tertulis. Di sana ia hanya dapat menggambarkan gejala-gejala yang dirasakannya tanpa berhasil menjelaskan hakikat kematian.
Manusia adalah makhluk yang sangat kompleks. Banyak pertanyaan yang diajukan oleh orang awam tentang manusia yang belum pernah terjawab hingga kini oleh para ilmuwan. Manusia adalah makhluk belum dikenal sebagaimana ditulis Alexis Carel (1873-1944) seorang ilmuwan yang juga dokter berkebangsaan Prancis, peraih Nobel bidang kedokteran, dalam bukunya Man the Unknown. Definisi-definisi yang dikemukakan oleh para ilmuan menyangkut manusia hanya menjelaskan dari salah satu sisinya. Sebab terdapat wilayah-wilayah dalam diri kita yang sungguh tertutup rapat bahkan sesuatu mengenai Jiwa dan Ruh sekalipun masih ada beberapa pendapat dan pandangan berbeda di kalangan para ulama, bahkan para ilmuan belum mampu mendeteksinya menggunakan mata kepala maupun mendeteksinya dengan berbagai penemuan eksperimennya.
Semuanya masih terasa ghaib bagi manusia walau semua itu nyata, baik keberadaanya di pentas bumi, terlebih sesudah kematian. Sejak dulu hingga kini, bukan hanya orang kebanyakan, para ulama dan pakar pun bertanya dan berusaha menemukan jawaban tentang maut. Tidak sedikit juga para filsuf yang tekun membahas hikmah, tetapi ketika berada di pembaringan dan ajal sudah menunggu di depan mata, ia mengeluh karena belum mengenal hakikat hidup. Kalau “hidup” saja belum diketahuinya, bagaimana ia akan mengetahui hakikat yang berada di balik hidup? Konon seorang ilmuwan dan filsuf kenamaan yang terkenal dengan teori evolusinya, Charles Darwin, sempat dituduh atheis dan kafir oleh pihak gereja karena teorinya bertentangan dengan kitab suci, namun ketika meninggal ia meletakkan injil di dadanya.
Allah Yang Maha Hidup mengatakan kepada kita bahwa sesungguhnya di dunia ini tidak akan ada yang kekal dan kelak semua pasti akan kembali kepadaNya. Orang yang beriman tidak akan berani mengatakan bahwa dirinya akan kekal abadi selama-lamanya. Keberadaan seorang anak manusia di pentas bumi ini bukan untuk menunjukkan eksistensinya melainkan menunjukkan ketiadaannya dan yang ada hanyalah Allah, Dzat yang kekal abadi tak terbatasi oleh ruang dan waktu, tak terbatasi oleh apapun melainkan diriNya sendiri. Seseorang yang dituduh atheis atau bahkan seseorang yang mengaku dirinya sebagai tuhan sekalipun toh kelak pada akhir hidupnya tidak bisa menyangkal keberadaan serta kekuasaanNya yang ditampakkanNya melalui maut.
… hingga ketika Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israel, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” (Q.S. Yunus [10]: 90).
Pembaca yang budiman, kita merasa ada karena ruh masih bersemayam di dalam diri kita. Begitu ruh dicabut, eksistensi kita sebagai manusia ikut lenyap. Jangankan pada saat ruh dicabut, pada saat tidur saja kita sudah tidak merasakan apa-apa, dan tidak punya kendali apa-apa atas diri kita. Eksistensi kita sudah hilang seiring kesadaran yang juga hilang. Masihkah anda merasa ada ketika anda tertidur lelap? Bayangkan, seandainya kita tidak terbangun lagi, maka sesungguhnya kita telah lenyap dari dunia ini. Karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita agar berdoa menjelang maupun sesudah tidur, sebab antara tidur dan mati hampir tidak ada bedanya.
Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut (dengan namaMu ya Allah aku hidup, dan dengan NamaMu aku mati). Begitulah beliau mengajarkan kepada kita untuk berdoa menjelang tidur karena kita tidak tahu apakah kita bisa bangun kembali ataukah tidak. Maka sebelum tidur kita diajarkan untuk berserah diri kepada Allah yang menguasai jiwa kita. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT:
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir. (Q.S. az-Zumar [39]: 42).
Dan ketika terbangun dari tidur, Rasulullah SAW mengajarkan untuk membaca sebuah doa: Alhamdulillaahilladzi ahyaana ba’damaa amaatana wa ilaihi nusyur (segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali sesudah kematianku, dan kepadaNyalah aku kembali).
Begitu tipisnya batas antara hidup dan mati. Setiap hari kita ditidurkan oleh Allah beberapa jam. Saat itulah kita telah mencicipi kematian. Itulah saat-saat jiwa kita ditahan oleh Allah. Kita tidak bisa merasakan, mengendalikan apalagi melawan. Ketika rasa kantuk menyerang, itulah saat menjelang ’kematian sementara’ kita. Cobalah anda rasakan, pada saat itu Allah mulai berangsur-angsur menahan jiwa kita. Entah apakah akan dikembalikan ataukah ditahan seterusnya.
Sebagian dari pengalaman tidur membuktikan adanya kehidupan setelah kematian, apalgi sesudahnya. Hal ini, diperkuat dengan apa yang diperkenalkan para ilmuwan mengenai mati klinis/ mati suri. Seorang dokter yang juga psikolog dari Amerika, Moody, melakukan analisa dengan mewawancarai lebih dari seratus orang yang pernah mengalami mati klinis. Walaupun informasi mereka dalam rinciannya berbeda-beda, namun pada prinsipnya sama yaitu mereka semua merasakan hal yang sama. Mereka bagaikan keluar dari jasadnya dan melihat tim dokter dan juru rawat sedang bersusah payah mengobatinya untuk ”menghidupkan” mereka kembali, dan ketika dokter tidak berhasil mereka dinyatakan ”mati”. Mereka juga merasakan seolah jiwa mereka membumbung melalui suatu ruang yang gelap serta mendengar aneka suara, sedang di ujung ruang yang gelap itu mereka bertemu dengan makhluk bercahaya yang memperlihatkan kepada mereka rekaman hidup mereka secara detail. Lalu kemudian mereka dinyatakan untuk kembali. Dan setelah kembali, mereka dinyatakan hidup kembali sebagaimana keadaan manusia di pentas bumi ini.
Peristiwa mati klinis yang terjadi berkali-kali ini, membuktikan bahwa kematian sama dengan tidur, hanya saja kematian melumpuhkan jasmani manusia, sedangkan tidur tidak demikian. Jika orang berkata bahwa mati sama dengan tidur, maka pastilah mati terasa nyaman. Mengantuk itu nyaman dan yang lebih nyaman dari mengantuk adalah tidur, dan yang lebih nyaman dari tidur adalah mati. Filsuf Jerman, Schopenhauer, yang berpandangan pesimistis melanjutkan, bahwa yang lebih nyaman dari mati adalah tidak wujud sama sekali.
Setiap hari kita telah berlatih untuk menemui kematian yang sesungguhnya. Tetapi seringkali kita merasa betapa kematian kita masih begitu jauhnya. Kehidupan anda adalah tarikan nafas yang terhitung jumlahnya. Setiap berlalu sekali tarikan, maka terkurangi pula jumlah bilangannya. Kematian hanyalah berpisahnya badan dengan jiwa dan ruh untuk sementara waktu. Tapi bukan untuk 1-2 jam, melainkan untuk beberapa waktu yang tidak kita ketahui hingga kita bangun dari kematian itu di Hari Kebangkitan. Kejadiannya persis seperti pada saat kita terbangun dari tidur kita sehari-hari.
Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. Mereka berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya). (Q.S. Yaasiin [36]: 51-52).
Akankah kita termasuk orang-orang yang menyesal saat ’dibangunkan’ kembali kelak? ataukah kita termasuk hamba-hamba yang berbahagia? semua itu bergantung kepada bagaimana saat-saat sebelum kita berangkat ’tidur’. Kalau kita termasuk orang-orang yang sudah terlatih untuk memasuki tidur dengan baik, maka insya Allah kita akan bangun kembali dalam keadaan yang bugar dan segar. Tapi kalau kita memasuki saat-saat tidur dengan penuh masalah membelit kehidupan kita, maka sungguh tidur kita akan menjadi mimpi buruk bagi kita. Dan tiba-tiba kita terbangun dalam kondisi sakit dan dada sesak.
Celakanya, mimpi buruk itu ternyata menjadi kenyataan pada saat kita terbangun dari tidur panjang itu. Jiwa kita yang terlanjur kotor selama berada di dunia ternyata harus dibersihkan di dalam api yang bernyala-nyala di neraka jahannam. Seperti halnya dikisahkan pada Fir’aun.
Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”. (Q.S Al Mu’min [40]: 45-46).
Berbeda dengan mereka yang telah melatih dan membiasakan dirinya untuk hidup bersih penuh kedamaian dan cinta kasih. ‘Tidur’ mereka sungguh adalah tidur yang penuh nikmat. Tidurnya para jiwa yang penuh kedamaian (nafs al muthmainnah). Mereka bermimpi indah sepanjang tidurnya yang pulas. Dan di ‘esok harinya’, mereka terbangun dalam kebahagiaan jiwa yang fitri, di surga Jannatun Na’im.
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Q.S. al-Fajr [89]: 27-30).
Wallahualam bissawab dan hanya Allah yang maha Tahu.
Friday, March 15, 2013
Rama - Kau Yang Telah Mengikatku
Rama - Kau Yang Telah Mengikatku
Kau yg tlah mengikatku
Dan selimuti pandangan khayalku
Menyentuh hati tuk mencintai
Sikap cantikmu yang menghanyutkan
Kaulah bungaku kaulah cintaku
Kau yang tlah menumbuhkan
Dengan lembutmu belai mata hatiku
Dan memaksaku suarakan hatiku
Menyanyikan lagu cinta untukmu
Karna bayangmu slalu ikuti......
Reff:
Kemana kau kan pergi
Kemana ku berlari
Tetapku mencintai
Kau yang tlah memelukku
Dimana kau berada
Disini ku kan rindu
Dan tetap tuk cinta kau
Yang tlah mencintaiku......
Friday, January 4, 2013
12 Ciri Sahabat Sejati Menurut Imam al-Ghazali
Ingatlah kapan terakhir kali Anda berada dalam kesulitan.Siapakah yang berada di samping Anda?Siapakah yang mengasihi Anda ketika Anda merasa tidak dicintai?Siapakah yang tetap bersama Anda, bahkan ketika Anda tak
bisa memberikan apa-apa?Itulah SAHABAT Anda.Bagaimanakah kita bisa mengukur persahabatan sejati itu?
Mari kita simak 12 Ciri Sahabat Sejati Menurut Imam al-Ghazali di bawah ini:Jika kau berbuat baik kepadanya, maka ia juga akan melindungimu;Jika engkau merapatkan ikatan persahabatan dengannya, maka ia akan
membalas balik persahabatanmu itu;Jika engkau memerlukan pertolongn darinya, maka ia akan berupaya membantu sesuai dengan kemampuannya;Jika engkau menawarkan berbuat baik kepadanya, maka ia akan
menyambut dengan baik;Jika ia memproleh suatu kebaikan atau bantuan darimu, maka ia akan menghargai kebaikan itu;Jika ia melihat sesuatu yang tidak baik dari dirimu, maka akan berupaya menutupinya;Jika engkau
meminta sesuatu bantuan darinya, maka ia akan mengusahakannya dengan sungguh-sungguh;Jika engkau berdiam diri (karena malu untuk meminta), maka ia akan menanyakan kesulitan yang kamu hadapi;Jika bencana
datang menimpa dirimu, maka ia akan berbuat sesuatu untuk meringankan kesusahanmu itu;Jika engkau berkata benar kepadanya, niscaya ia akan membenarkanmu;Jika engkau merencanakan sesuatu kebaikan, maka
dengan senang hati ia akan membantu rencana itu;Jika kamu berdua sedang berbeda pendapat atau berselisih paham, niscaya ia akan lebih senang mengalah untuk menjaga.Ingatlah kapan terakhir kali Anda berada dalam
kesulitan.
Siapakah yang berada di samping Anda?
Siapakah yang mengasihi Anda ketika Anda merasa tidak dicintai?
Siapakah yang tetap bersama Anda, bahkan ketika Anda tak bisa memberikan apa-apa?
Itulah SAHABAT Anda.
Apakah kita telah memiliki sahabat sejati seperti itu?
Bukankah lebih baik jika kita introspeksi diri dulu, apakah diri kita sudah layak disebut sebagai sahabat sejati?
Dalam masa kejayaan, teman-teman mengenal kita.
Dalam masa kesulitan, kita mengenal siapa sahabat kita.
Kenikmatan Dunia Mengurangi Kenikmatan Akhirat
Masih segar di telinga kita DPR menolak diperiksa KPK terkait dugaan korupsi. Padahal kalau tidak merasa korupsi kenapa meski takut untuk diperiksa? Korupsi dalam kehidupan dinegara kita memang sudah seperti virus yang telah beranak pinak dan mengakar disetiap relung kehidupan masyarakat. Hingga tanpa dirasa, masing-masing dari kita ‘mungkin’ merasakan dan melakukan korupsi, seperti sogok menyogok di jalan raya, pesakitan dengan jaksa dan hakim, pedagang mengurangi timbangan dll. Hingga masing-masing dari kita telah lupa definisi korupsi.
Bila diangan-angan, heran juga mengapa ketika global warming didengungkan negara kita menyewakan hutan lindung untuk lahan garapan. Dan bukan tidak mungkin orang yang menggarap adalah ‘pemain’ lama di dunia bisnis di Indonesia . Bagi seorang mukmin pasti bertanya, "Kalau makan minum bahkan kehidupan tersier sudah dapat dipenuhi mengapa tetap memperkaya diri dengan merusak lingkungan? Bukankah kekayaan tidak mungkin dibawa mati?" Budaya Tionghoa yang mempercayai kehidupan setelah mati mengirim orang yang mati dengan uang palsu, bukan uang sungguhan. Mengapa begitu tamak memburu harta?
Imam al Ghazali dalam Minhaj al abidin meriwayatkan sebuah hadits
أَنَّ شِدَّةَ سَكَرَاتِ المَوتِ عَلَى قَدْرِ لَذَّةِ الدُّنْيَا فَمَنْ أَكْثَرَ مِنْ هَذِهِ أَكْثَرَ لَهُ مْنْ تِلْكَ
Sesungguhnya beratnya sakaratul maut digantungkan pada kadar nikmat dunia, barangsiapa banyak merasakan nikmat dunia maka semakin beratlah sakaratul maut yang dirasakannya.
Terhadap hadits di atas Allah juga telah memperingatkan dalam surat al Ahqaf ayat 20
...أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِى حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاستَمْتَعْتُمْ بَهِا فاليَومَ تُجْزَونَ عَذَابَ الهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ فِى الأَرْضِ بِغَيْرِ الحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُونَ
"Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; Maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik".
Bila berkaca pada dalil di atas, seorang mukmin yang sejati selalu menumbuhkan rasa qanaah sifat menerima apa yang Allah telah berikan karena berdasar tafsir Imam al Ghazali atas ayat tersebut, setiap kenikmatan dunia yang kita rasakan akan mengurangi kenikmatan akhirat nantinya kecuali kenikmatan dunia yang diberikan kepada Nabi Besar Muhammad saw. Kalau kita mengetahui bahwa kehidupan akhirat kekal abadi tanpa ada kematian sementara dunia memiliki ujung pangkal kematian, tentu kita tidak akan mengorbankan kehidupan akhirat demi mendapat dunia.
Meski mendapat uang, mengapa lagi kita harus bertempur mati-matian untuk membela jago pilkada kita. Toh kalau memang pemimpin kita jujur care dengan masyarakat dan kehidupan rakyatnya tidak mungkin membiarkan rakyatnya saling bermusuhan demi jabatannya. Seperti reformasi yang kita dengungkan pada 1998 hingga mengorbankan banyak nyawa ternyata kita hanya memberi kesempatan ular berganti baju saja. Untuk itu semangat berburu kenikmatan ukhrawi harus ditumbuhkan disetiap insan masyarakat indonesia agar tidak lagi mau berbuat apa saja untuk sekedar uang receh sebagai balasannya.
Dalam penjelasannya yang lain Imam al Ghazali menyatakan:
Setiap kehalalan dunia akan dihisab (diperhitungkan amalnya oleh Allah) setiap haramnya dunia akan berakibat adzab Allah dan setiap keindahannya akan berakibat kerusakan.
Maka tak heran bila Rasulullah berharap miskin, digolongkan orang miskin dan bermohon kematian disaat miskin, karena disaat orang kaya masih dihitung hartanya bagaimana dia mendapatkan dan mendistribusikannya, orang miskin berlenggang masuk surga karena tidak ada yang dihitung karena memang tidak memiliki apa-apa.
Karena itu pula Rasulullah berpesan:
مَنْ طَلَبَ الدُّنْيَا حَلاَلاً مُبَاهِيًا مُكَاثِرًا مُفَاخِرًا مُرَائِيًا لَقِى اللهَ تَعَالَى وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانٌ
Barangsiapa mencari dunia (harta) yang halal untuk berlomba mengunggulkan diri, menumpuk harta, menyombongkan diri dan pamer maka dia akan bertemu dengan Allah dalam keadaan Murka.
Sudah sering kita dengar pesan الدنيا مزرعة الأخرة dunia adalah ladang bagi akhirat, dunia adalah media untuk mendekat kepada Allah bukan untuk menjauhi atau menjadikannya tujuan utama. Kalau begitu mengapa harus korupsi? Bukankah yang halal saja perhitungan amalnya berat apalagi yang haram. Terus untuk apa mengorbankan akhirat demi dunia? Kiamat sudah dekat!
Subscribe to:
Posts (Atom)