Tuesday, May 7, 2013

PEMERINTAH DAN MASYARAKAT ISLAM

Wafatnya  Muhammad  menimbulkan  krisis  kepemimpinan  dalam
masyarakat,   kemudian   tercipta   kekhalifahan.   Hal  ini
menebarkan benih-benih yang kemudian  menimbulkan  munculnya
dua  golongan besar Islam, Sunni dan Syi'ah. Ketika Muhammad
meninggal  dunia,  orang-orang  Islam  menghadapi  pemilihan
pengganti   Nabi.   Timbul   dua  pendapat.  Sebagian  besar
masyarakat  yakin  bahwa  Muhammad  tidak  menunjuk  seorang
pengganti  dan menerima pemilihan khalifah oleh para sahabat
senior Nabi. Khalifah  adalah  pemimpin  politik  masyarakat
tanpa   menyatakan  diri  sebagai  rasul.  Namun,  ada  juga
sekelompok kecil yang yakin bahwa  Muhammad  telah  menunjuk
Ali  yang,  sebagai  saudara  sepupu  dan menantu, merupakan
laki-laki tertua dalam keluarga Muhammad. Bagi para pengikut
Ali ini (Syi'i atau "pengikut" Ali), kepemimpinan umat Islam
harus berada di tangan anggota keluarga Rasulullah. Ali  dan
keturunannya   seharusnya   menjadi  pemimpin  politik-agama
(Imam)  umat  Islam.  Walaupun  bukan  rasul,  Imam  Syi'ah,
berbeda  dengan  khalifah,  mendapatkan  status  yang sangat
khusus sebagai pemimpin yang maksum dan bertindak  di  jalan
agama.
 
Yang   dominan   adalah   pendapat   mayoritas  kaum  Sunni.
Masyarakat Islam dipimpin di bawah negara kekhalifahan  yang
segera diubah menjadi kekhalifahan dinasti dan kekaisaran.[1]
Enam abad pertama Islam dapat dibagi ke dalam  tiga  periode
utama:  Empat  Khalifah sejati di Madinah (632-661), disebut
demikian karena masih  berhubungan  dengan  zaman  Muhammad,
pemerintahan  mereka  dianggap  sebagai periode normatif dan
formatif ideal  Islam;  kekhalifahan  Umayyah  (661-750)  di
Damaskus; dan kekhalifahan Abbasiyyah (750-1258) di Baghdad.
 
Pandangan-dunia  yang  timbul  pada masa kekhalifahan sangat
dipengaruhi oleh agama. Sementara para pemerintah tergantung
pada   bala   tentara   mereka,  Islam  memberikan  kerangka
ideologis bagi negara dan masyarakat, sumber legitimasi  dan
wewenang. Bagaimanapun sifat pemerintah atau dengan cara apa
ia  berkuasa,   semuanya   mengusahakan   legitimasi   dalam
kekhalifahannya  sebagai  pengganti  Nabi, sebagai "pemimpin
kaum  mukmin,"   yang   tugasnya   adalah   melindungi   dan
menyebarkan  agama  dan  mengupayakan agar masyarakat diatur
dengan hukum Tuhan. Dunia dibagi  ke  dalam  wilayah-wilayah
Islam  (dar Al-Islam, negara perdamaian) dan dunia non-Islam
(dar al-harb, negara  peperangan).  Kewarganegaraan,  pajak,
dan  masalah-masalah  peperangan  dan  perdamaian ditentukan
oleh keputusan agama. Kaum  Muslim  merupakan  warga  negara
sepenuhnya  dan membayar pajak, sedangkan orang-orang Yahudi
dan Kristen (Ahlul Kitab) dianggap sebagai "orang-orang yang
dilindungi"  dan membayar pajak kepala, sebagai balasan atas
perlindungan yang diberikan kepada mereka  oleh  kemiliteran
Islam.
 
[1]:
Hugh Kennedy, The Prophet and the Age of Caliphates (London:
Longman, 1986).
Sumber. 

KOMUNITAS ISLAM (UMMAH)

KOMUNITAS ISLAM (UMMAH)
 
Pentingnya hijrah, perpindahan Muhammad dan para  sahabatnya
dari  Makkah  ke Madinah, tidak dapat dianggap remeh. Hijrah
merupakan permulaan lahirnya masyarakat Islam dan  mempunyai
makna religius dan historis yang luar biasa sehingga menjadi
dasar dalam menulis sejarah Islam, tahun pertama penanggalan
Islam.   Kepindahan  Muhammad  ke  Madinah  menandai  sebuah
perubahan utama dalam sejarah dari zaman penyembahan berhala
pra-Islam  masa  lampau  ke  dunia  yang  dibimbing oleh dan
berpusat  pada  Tuhan  di  mana  kesukuan  dikalahkan   oleh
keanggotaan  dalam  suatu umat yang disatukan oleh iman yang
sama.
 
Masyarakat Madinah terdiri  dari  banyak  golongan  keluarga
(klan),  termasuk  beberapa  golongan keluarga Yahudi. Dalam
beberapa waktu kemudian, Muhammad  dapat  mengkonsolidasikan
kekuasaan   dan  wewenangnya,  memasukkan  keluarga-keluarga
penyembah berhala kedalam  Islam.  Akhirnya  Muhammad  tidak
hanya menjadi Rasul tetapi juga pemimpin masyarakat[1] Islam
tidak mengenal adanya pemilahan  antara  agama  dan  negara,
antara   agama   dan  masyarakat,  individu  dan  komunitas.
Orientasi Islam dilambangkan dalam ayat Al-Quran: "Patuhilah
Allah  dan  Rasul-Nya." Rasulullah menerima dan menyampaikan
wahyu yang diterimanya  yang  membimbing  dan  juga  tanggap
terhadap  dinamika  sejarah  umat.  Pada  waktu yang sama ia
memperhatikan dan mengatur  urusan-urusan  negara,  mengabdi
sebagai  pemimpin  politik  dan  militer,  hakim dan pembaru
masyarakat.  Agama  merupakan  sesuatu  yang  menyatu  dalam
kepemimpinan,   kehidupan   dan  jaringan  masyarakat,  yang
memberikan norma-norma ibadah (kewajiban terhadap Tuhan) dan
kehidupan sosial (kewajiban terhadap masyarakat). Jika Islam
berarti penyerahan diri terhadap kehendak Allah,  maka  kaum
Muslimlah   yang   harus   pasrah,   yaitu   mengikuti  atau
membenarkan kehendak  Tuhan  baik  dalam  kehidupan  pribadi
maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
 
Madinah  mencerminkan  hubungan  integral  antara  agama dan
negara  dalam  Islam,  suatu  idealisme  yang   mempengaruhi
pembangunan  masyarakat  Islam baik dulu maupun kini. Negara
itu dipimpin oleh Muhammad, Rasul Allah, dan dibimbing  oleh
Wahyu   Tuhan.   Muhammad  memegang  peran-peran  eksekutif,
yudikatif dan legislatif sebagai kepala negara. Ia mengurusi
masalah  dalam  dan  luar  negeri,  masalah  kemiliteran dan
masalah pemungutan pajak, dan  ia  pun  melerai  orang-orang
yang  bertikai.  Masyarakat  Islam  tidak  hanya  diwajibkan
mengikuti peraturan dan perintah Tuhan,  tetapi  juga  untuk
menyebarkannya.  Muhammad  memadukan tindakan militer dengan
diplomasi. Ia kembali ke Makkah  disertai  oleh  kemenangan,
dan   pada   tahun  wafatnya,  632  Masehi,  telah  berhasil
mengkonsolidasikan berbagai suku di Arab.
 
Yang  dibawa  Muhammad  lebih  dari  sekadar  sintesis  atau
interpretasi  gagasan agama dan adat-istiadat (Arab, Yahudi,
Kristen)  yang  ada.  Ia  menciptakan  suatu   tatanan   dan
masyarakat  yang  baru.  Suatu  masyarakat yang religius dan
politis (lebih tepatnya religiopolitis) yang  berakar  dalam
dan dipersatukan  oleh  suatu  visi  atau  ikatan  agama.[2]
Gagasan-gagasan dan lembaga-lembaga lama tetap  dipergunakan
tetapi   disesuaikan   dengan   norma-norma   Islam,  dengan
terciptanya cita baru akan identitas, solidaritas, komunitas
dan  wewenang.  Jantung  gerakan  ini  adalah  "agama baru,"
pemahaman  khusus   mengenai   arti   dan   implikasi   visi
monoteistik  dan  jalan  hidup  Islam;  keesaan  Tuhan  yang
transenden dan Mahakuasa; kehendak-Nya untuk mencipta,  yang
mempunyai   dampak   pada  kehidupan  pribadi  maupun  umum;
perlunya kepatuhan kepada kehendak itu; misi  setiap  Muslim
sebagai  individu  dan  sebagai  anggota umat beragama untuk
merealisasikan  dan   menyebarkan   peraturan   Tuhan;   dan
kesempumaan  serta  kebenaran  wahyu  Al-Quran dan kenyataan
bahwa Muhammad  adalah  Rasul  terakhir.  Visi  inilah  yang
mengubah  suku-suku di Arab dan menghasilkan perubahan besar
dalam sejarah dan kebudayaan dunia.
 
Catatan kaki:
[1]:
Karya standar mengenai hal ini adalah  W.  Montgomery  Watt,
Muhammad  at  Mecca  (Oxford:  Clarendon  Press,  1953)  dan
Muhammad at Medina (Oxford: Clarendon  Press,  1956).  Kedua
volume   ini   kemudian  diterbitkan  dalam  versi  ringkas,
Muhammad Prophet and Statesman  (London:  Oxford  University
Press, 1961).
[2]:
Fred McGraw Donner, The Early Islamic  Conquest  (Princeton,
N.Y.: Princeton University Press, 1981), hlm. 269ff

Sumber

ANCAMAN ISLAM Mitos atau Realitas? (The Islamic Threat: Myth or reality?) John L. Esposito Penerbit Mizan Jln. Yodkali 16, Bandung 40124 Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038

MUHAMMAD: UTUSAN ALLAH

Al-Quran dan Muhammad memberikan sumber dan  bimbingan  suci
bagi  pembangunan  agama  baik  di  masa lalu maupun di masa
sekarang. Kalau  para  pengikut  Muhammad  berpaling  kepada
Muhammad   pada  masa  hidupnya,  pada  masa  sekarang  pun,
orang-orang  Muslim  yang  taat  di  seluruh  penjuru  dunia
berpegang   pada   wahyu   dan   ajaran-ajaran  Rasul  dalam
mengarahkan hidup mereka.
 
Dilahirkan di Arab (kasarnya,  sekarang,  Arab  Saudi)  pada
tahun  570 Masehi, Muhammad ibn Abdullah (570-632) mempunyai
pengalaman agamais yang sangat dalam pada usia  empat  puluh
tahun,  yang  mengubah  dirinya  dan  mewujudkan  umat  yang
kira-kira empat belas tahun kemudian menjadi agama  terbesar
kedua   di  dunia,  dan  mempunyai  pemeluk  yang  berjumlah
kira-kira satu milyar orang. Dibandingkan dengan  kebanyakan
nabi   atau   pendiri  tradisi  agama  besar  lainnya,  yang
kehidupannya tak terekam dalam sejarah,  kehidupan  Muhammad
saw.,  Al-Quran dan hadis Nabi banyak dicatat dalam sejarah,
dan sebuah biografi awal yang ditulis oleh Ibn Ishaq  (wafat
sekitar  768).[1] Bagaimanapun juga  kita mengetahui sedikit
tentang kehidupan Muhammad. Ia yatim sejak masa kanak-kanak,
dan   dibesarkan   oleh  sanak  keluarganya.  Sejarah  Islam
menceritakan bahwa ketika berusia 25 tahun,  beliau  menikah
dengan  seorang  janda  kaya.  Khadijah adalah pemilik suatu
kafilah yang dikelola Muhammad. Ia berusia lima belas  tahun
lebih  tua daripada Muhammad. Karena cenderung kepada agama,
Muhammad sering menyepi di suatu  tempat  yang  sunyi  untuk
berpikir  dan  merenung.  Pada tahun 610 di suatu malam yang
diperingati  oleh  kaum  Muslim  sebagai   Malam   Kemuliaan
(Laylatul-Qadar), Muhammad pemimpin kafilah menjadi Muhammad
Rasul Allah, yang menerima wahyu  pertama  melalui  Malaikat
Jibril:   "Bacalah,   dengan   Nama   Tuhanmu   yang   telah
menciptakan,  menciptakan  manusia  dari   segumpal   darah.
Bacalah!  Tuhanmu  Yang  Maha  Pemurah! Yang mengajar dengan
Kalam, mengajar manusia apa yang  tidak  diketahuinya!"  (QS
96:  1-5).  Wahyu  yang turun antara tahun 610 sampai dengan
632, dikumpulkan dan ditulis kembali  setelah  ia  meninggal
dunia dan menjadi Kitab Suci umat Islam, Al-Quran.
 
Sejarah  Islam menggambarkan seorang Rasul yang pada mulanya
bingung dan cemas yang, seperti rasul-rasul dalam kitab suci
Yahudi, bingung karena apa yang dialaminya, cemas akan sikap
orang-orang  lain  yang  akan  menerima  ajarannya.  Seperti
ditunjukkan  dalam  sejarah nabi, orang-orang yang dikatakan
sebagai pemberi peringatan atau utusan Tuhan tidak mengalami
kehidupan   yang  menyenangkan.  Para  rasul  yang  mengutuk
penyelewengan  dan   kekafiran   masyarakatnya,   dan   yang
menentang   kebudayaan   yang  ada,  seringkali  mendapatkan
ejekan,  penolakan  dan  pengejaran.  Muhammad   pun   tidak
terkecuali.
 
Selama  sepuluh  tahun, ia berdakwah menyampaikan misi agama
dan  perbaikan  sosial  di  Makkah.  Muhammad  dan  Al-Quran
menyatakan keesaan Tuhan, menolak politeisme yang terjadi di
Arab, dan  melarang  ketidakadilan  sosial.  Muhammad  tidak
mengatakan   bahwa   ia  membawa  agama  baru  tetapi  hanya
memurnikan dan mengembalikan agama yang dibawa Nabi Ibrahim.
Misinya  adalah memperbaiki dan meluruskan kembali umat yang
menyeleweng. Seperti  Amos  dan  Jeremiah  sebelum  dirinya,
Muhammad   adalah   utusan  Allah  yang  mengutuk  kekafiran
masyarakatnya dan mengimbau agar  orang  memohon  ampun  dan
patuh   kepada   Allah,   karena   Hari   Akhir  itu  dekat:
"Katatanlah: 'Hai manusia, sesungguhnya aku  adalah  seorang
memberi,  peringatan  yang nyata kepadamu.' Maka orang-orang
yang beriman dan  mengerjakan  amal-amal  yang  saleh,  bagi
mereka ampunan dan rezeki yang mulia." (QS 22:49-50).
Muhammad  menyeru  kepada  masyarakat Makkah untuk menyembah
Tuhan   Yang   Satu    dan    membuang    kepercayaan    dan
perbuatan-perbuatan  yang  bersilat politeistis. Negeri Arab
tak asing terhadap monoteisme. Namun, ketika ada  masyarakat
Yahudi  atau  Kristen yang bercampur dengan orang-orang Arab
asli   yang   menganut   monoteisme   (orang-orang   Hanif),
serangkaian   panjang  Tuhan  mendominasi  masyarakat  Arab.
Muhammad  mengajak  orang  kembali  kepada  agama   Ibrahim:
percaya  kepada  Tuhan  Yang  Esa,  Yang  Menciptakan,  Yang
Memberi rezeki dan Yang Mengadili  seluruh  dunia.  Muhammad
dengan   Al-Qurannya   mengajarkan   bahwa   manusia  diberi
perhitungan dan mereka semua akan diadili  dan  akhirnya  di
Hari Pengadilan diberi pahala atau hukuman sesuai dengan apa
yang mereka perbuat. Panggilan Islam adalah panggilan  untuk
berpaling  dari  jalan  kekafiran  dan kembali ke jalan yang
benar (Syari'ah) atau Hukum Tuhan.  Kembali  ke  jalan  yang
benar  ini berarti menjadi anggota umat yang menyembah Tuhan
sebenarnya, Yang Maha Esa, yang  melaksanakan  kehendak-Nya,
yang menciptakan suatu umat bermoral benar.
 
Pesan  Al-Quran  bukan  hanya merupakan perintah agama saja,
tetapi  juga  merupakan  suatu  tantangan  terhadap  politik
sosial  yang  ada.  Makkah  bukan  hanya  pusat ibadah hati,
tetapi juga  merupakan  pusat  perdagangan,  yang  mengalami
perubahan dari masyarakat suku yang semi-Badui ke masyarakat
dagang urban. Al-Quran mengajarkan kepatuhan terhadap  Tuhan
dan  RasulNya,  persaudaraan  antar  sesama  umat,  berzakat
kepada  orang-orang  miskin  dan  berjuang  (jihad)  melawan
penindasan.    Al-Quran    mengutuk   eksploitasi   terhadap
orang-orang  miskin,  anak-anak  yatim  serta  kaum  wanita;
melarang   penyelewengan,  penipuan,  berbohong,  mengadakan
perjanjian  palsu  dalam  perdagangan,  menghambur-hamburkan
kekayaan  dan  bersikap  sombong.  Al-Quran juga menjanjikan
hukuman yang berat terhadap  perbuatan  memfitnah,  mencuri,
membunuh,  penggunaan racun, berjudi dan berzina. Pernyataan
Muhammad  bahwa  dirinya   nabi,   penentangannya   terhadap
ketidakadilan  dalam  masyarakat  Makkah,  dan  penegasannya
bahwa semua orang  yang  beriman  merupakan  satu  komunitas
universal,    meruntuhkan    wewenang    politik   kesukuan.
Penolakannya  terhadap  politeisme   benar-benar   mengancam
kepentingan  ekonomi penduduk Makkah yang mengontrol Ka'bah,
rumah suci yang menjadi tempat patung-patung sesembahan suku
dan   merupakan  tempat  dilakukannya  ibadah  haji  setahun
sekali, sumber prestise dan pendapatan keagamaan  masyarakat
Makkah.
 
Setelah  sepuluh tahun, Muhammad merasakan keberhasilan yang
terbatas.  Jika  diukur  dengan  standar  duniawi  ia  dapat
dikatakan  gagal.  Walaupun  dilindungi  oleh  pamannya yang
berpengaruh, Abu Thalib, dan oleh keluarganya, Bani  Hasyim,
ia  sendiri  kurang  berkuasa  dan berwibawa untuk mengatasi
penentangan luas dari kaum aristokrat Makkah, yang  dipimpin
oleh kaum Quraisy, golongan pedagang yang dominan di Makkah.
Pada tahun  619,  dengan  wafatnya  sang  paman  dan  istri,
Muhammad   kehilangan   pilar-pilar   yang   mendukung   dan
melindunginya, dan menjadi semakin  sendiri  dan  menderita.
Kelompok pengikutnya yang hanya sedikit jumlahnya, satu demi
satu  dibunuh  oleh  orang-orang  Makkah,  yang   menganggap
kerasulan  dan  pembaharuan  yang  dilakukan  oleh Muhammad,
dengan  kecaman-kecamannya  yang  tidak  langsung   terhadap
status  quo  politik  dan  sosial ekonomi, sebagai tantangan
terhadap  kepemimpinan  dan   kepentingan   mereka.   Dengan
alasan-alasan  inilah  ketika ia diundang oleh para pemimpin
di kota terdekat,  Madinah,  sebuah  kota  oasis  pertanian,
untuk bertindak sebagai pemimpin di sana, ia dan kelompoknya
segera  berhijrah  pada  tahun  622  dan  mendirikan  sebuah
masyarakat Islam (ummah) yang pertama di tempat itu.

Sumber.

ANCAMAN ISLAM Mitos atau Realitas? (The Islamic Threat: Myth or reality?) John L. Esposito Penerbit Mizan Jln. Yodkali 16, Bandung 40124 Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038
 

ASAL-USUL DAN SIFAT ISLAM

Walaupun asal-usul komunitas Islam  itu  dari  Muhammad  dan
abad ketujuh, orang-orang Islam - seperti Yahudi dan Kristen
- asal-usul tradisi agamanya (Islam) berasal dari Tuhan Yang
Esa  (Allah) melalui garis panjang kenabian. Dengan demikian
orang-orang Islam menekankan  bahwa  tradisi  Yudaeo-Kristen
lebih  tepat  dikatakan sebagai tradisi Yudaeo-Kristen-Islam
karena ketiganya merupakan putra-putra  Ibrahim  a.s.,  Nabi
pertama  yang menerima Wahyu Tuhan. Mereka sama-sama percaya
kepada  Nabi  Ibrahim  a.s.,  yang  percaya  kepada   Tuhan,
nabi-nabi  wahyu,  umat  yang  mengemban  mandat  Tuhan, dan
tanggung jawab  moral.[1] Jika asal-usul  orang  Yahudi  dan
Kristen  dari  Ibrahim  dan Sarah melalui Ishaq, orang Islam
pun demikian halnya melalui Isma'il, putra  pertama  Ibrahim
dan Hajar.
 
Kalau   dalam   kisah   suci   orang-orang  Yahudi  tercatat
kemenangan monoteisme yang diturunkan kepada  Adam,  Ibrahim
dan  Musa  dalam  dunia  politeistik,  demikian  juga  dalam
sejarah Islam terungkap proses yang  sama  dari  monoteisme,
kerasulan  dan  wahyu  Tuhan yang tidak mengenal kompromi di
kalangan  lingkungan  sosial  politeisme  kesukuan.[2] Kalau
orang-orang  Yahudi  mempunyai  Taurat,  orang-orang Kristen
mempunyai Injil, orang-orang Islam pun mempunyai Kitab  Suci
Al-Quran. Orang-orang Islam percaya bahwa Tuhan pertama kali
menurunkan  wahyu   kepada   bangsa   Yahudi   lalu   kepada
orang-orang  Kristen,  tetapi kemudian wahyu itu terdistorsi
karena ulah manusia yang melakukan perubahan dan  penambahan
terhadap   kitab   tersebut   yang  mengakibatkan  timbulnya
kepercayaan  akan  inkarnasi,   penyaliban,   kematian   dan
kebangkitan  Nabi  Isa  a.s.  serta  doktrin penebusan dosa.
Bibel  Yahudi  atau  Perjanjian  Lama  dan  Perjanjian  Baru
Kristen diyakini sebagai versi wahyu Ilahi yang sudah rusak.
Kemudian Tuhan menurunkan wahyu sekali lagi kepada Muhammad,
Nabi  yang  paling akhir. Inilah yang kemudian menjadi dasar
kepercayaan orang-orang Islam bahwa Al-Quran, yang dipandang
sebagai   Firman   Tuhan   yang   sempurna,   lengkap,  yang
menggantikan kitab suci Kristen dan Yahudi.
 
Catatan kaki:
[1]:
Untuk perspektif kesarjanaan Barat, lihat Francis E. Peters,
Children of Abraham (Princeton, N.Y.: Princeton University
Press, 1982). Untuk melihat teks dasar (basic texts)
mengenai ketiga sistem religius yang ditempatkan sejajar
dengan masalah-masalah umum ini, lihat Judaism, Christianity
and Islam The Classical Text and Their Interpretation, oleh
pengarang yang sama, 3 Jilid (Princeton, N.Y.: Princeton
University Press, 1990).
[2]:
Sebagai pengantar untuk mengenali Islam sejak masa awal
komunitas Muslim hingga sekarang, lihat John L. Esposito,
Islam, the Straight Path, edisi yang diperluas (New York:
Oxford University Press, 1991); Frederick Mathewson Denny,
An Introduction of Islam (New York: Macmillan, 1985); Fazlur
Rahman, Islam (Chicago: University of Chicago Press, 1979).
Sumber. 


ANCAMAN ISLAM Mitos atau Realitas? (The Islamic Threat: Myth or reality?) John L. Esposito Penerbit Mizan Jln. Yodkali 16, Bandung 40124 Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038

Wednesday, April 3, 2013

ANTARA TIDUR DAN MATI

Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapa lama kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari”…. (Q.S. al-Baqarah [2]: 259). Ayat di atas berkisah tentang seseorang yang dimatikan oleh Allah selama seratus tahun, yang lalu dihidupkan kembali. Ketika Allah bertanya, orang tersebut masih belum mengerti berapa lama ia dimatikan oleh Allah. Kisah yang hampir serupa digambarkan dalam sekelompok pemuda yang dikejar oleh penguasa dzalim kemudian mereka bersembunyi dalam sebuah gua dan memohon perlindungan kepada Allah. Sesaat kemudian mereka ditidurkan oleh Allah selama kurang lebih 300 tahun. Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu) (Q.S. Al Kahfi [18]: 11-12). Jalinan tulisan dalam artikel ini akan mencoba mengaji rahasia maut, dan juga batas antara tidur dan maut yang nyaris tipis. Maut tetap menjadi sebuah misteri yang belum terungkap hingga saat ini. Konon ada seorang ilmuwan dari Italia yang rela meneguk racun untuk mati sambil menuliskan gejala-gejala yang dialaminya. Sayang, maut mendatanginya sebelum catatan tersebut selesai tertulis. Di sana ia hanya dapat menggambarkan gejala-gejala yang dirasakannya tanpa berhasil menjelaskan hakikat kematian. Manusia adalah makhluk yang sangat kompleks. Banyak pertanyaan yang diajukan oleh orang awam tentang manusia yang belum pernah terjawab hingga kini oleh para ilmuwan. Manusia adalah makhluk belum dikenal sebagaimana ditulis Alexis Carel (1873-1944) seorang ilmuwan yang juga dokter berkebangsaan Prancis, peraih Nobel bidang kedokteran, dalam bukunya Man the Unknown. Definisi-definisi yang dikemukakan oleh para ilmuan menyangkut manusia hanya menjelaskan dari salah satu sisinya. Sebab terdapat wilayah-wilayah dalam diri kita yang sungguh tertutup rapat bahkan sesuatu mengenai Jiwa dan Ruh sekalipun masih ada beberapa pendapat dan pandangan berbeda di kalangan para ulama, bahkan para ilmuan belum mampu mendeteksinya menggunakan mata kepala maupun mendeteksinya dengan berbagai penemuan eksperimennya. Semuanya masih terasa ghaib bagi manusia walau semua itu nyata, baik keberadaanya di pentas bumi, terlebih sesudah kematian. Sejak dulu hingga kini, bukan hanya orang kebanyakan, para ulama dan pakar pun bertanya dan berusaha menemukan jawaban tentang maut. Tidak sedikit juga para filsuf yang tekun membahas hikmah, tetapi ketika berada di pembaringan dan ajal sudah menunggu di depan mata, ia mengeluh karena belum mengenal hakikat hidup. Kalau “hidup” saja belum diketahuinya, bagaimana ia akan mengetahui hakikat yang berada di balik hidup? Konon seorang ilmuwan dan filsuf kenamaan yang terkenal dengan teori evolusinya, Charles Darwin, sempat dituduh atheis dan kafir oleh pihak gereja karena teorinya bertentangan dengan kitab suci, namun ketika meninggal ia meletakkan injil di dadanya. Allah Yang Maha Hidup mengatakan kepada kita bahwa sesungguhnya di dunia ini tidak akan ada yang kekal dan kelak semua pasti akan kembali kepadaNya. Orang yang beriman tidak akan berani mengatakan bahwa dirinya akan kekal abadi selama-lamanya. Keberadaan seorang anak manusia di pentas bumi ini bukan untuk menunjukkan eksistensinya melainkan menunjukkan ketiadaannya dan yang ada hanyalah Allah, Dzat yang kekal abadi tak terbatasi oleh ruang dan waktu, tak terbatasi oleh apapun melainkan diriNya sendiri. Seseorang yang dituduh atheis atau bahkan seseorang yang mengaku dirinya sebagai tuhan sekalipun toh kelak pada akhir hidupnya tidak bisa menyangkal keberadaan serta kekuasaanNya yang ditampakkanNya melalui maut. … hingga ketika Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israel, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” (Q.S. Yunus [10]: 90). Pembaca yang budiman, kita merasa ada karena ruh masih bersemayam di dalam diri kita. Begitu ruh dicabut, eksistensi kita sebagai manusia ikut lenyap. Jangankan pada saat ruh dicabut, pada saat tidur saja kita sudah tidak merasakan apa-apa, dan tidak punya kendali apa-apa atas diri kita. Eksistensi kita sudah hilang seiring kesadaran yang juga hilang. Masihkah anda merasa ada ketika anda tertidur lelap? Bayangkan, seandainya kita tidak terbangun lagi, maka sesungguhnya kita telah lenyap dari dunia ini. Karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita agar berdoa menjelang maupun sesudah tidur, sebab antara tidur dan mati hampir tidak ada bedanya. Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut (dengan namaMu ya Allah aku hidup, dan dengan NamaMu aku mati). Begitulah beliau mengajarkan kepada kita untuk berdoa menjelang tidur karena kita tidak tahu apakah kita bisa bangun kembali ataukah tidak. Maka sebelum tidur kita diajarkan untuk berserah diri kepada Allah yang menguasai jiwa kita. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT: Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir. (Q.S. az-Zumar [39]: 42). Dan ketika terbangun dari tidur, Rasulullah SAW mengajarkan untuk membaca sebuah doa: Alhamdulillaahilladzi ahyaana ba’damaa amaatana wa ilaihi nusyur (segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali sesudah kematianku, dan kepadaNyalah aku kembali). Begitu tipisnya batas antara hidup dan mati. Setiap hari kita ditidurkan oleh Allah beberapa jam. Saat itulah kita telah mencicipi kematian. Itulah saat-saat jiwa kita ditahan oleh Allah. Kita tidak bisa merasakan, mengendalikan apalagi melawan. Ketika rasa kantuk menyerang, itulah saat menjelang ’kematian sementara’ kita. Cobalah anda rasakan, pada saat itu Allah mulai berangsur-angsur menahan jiwa kita. Entah apakah akan dikembalikan ataukah ditahan seterusnya. Sebagian dari pengalaman tidur membuktikan adanya kehidupan setelah kematian, apalgi sesudahnya. Hal ini, diperkuat dengan apa yang diperkenalkan para ilmuwan mengenai mati klinis/ mati suri. Seorang dokter yang juga psikolog dari Amerika, Moody, melakukan analisa dengan mewawancarai lebih dari seratus orang yang pernah mengalami mati klinis. Walaupun informasi mereka dalam rinciannya berbeda-beda, namun pada prinsipnya sama yaitu mereka semua merasakan hal yang sama. Mereka bagaikan keluar dari jasadnya dan melihat tim dokter dan juru rawat sedang bersusah payah mengobatinya untuk ”menghidupkan” mereka kembali, dan ketika dokter tidak berhasil mereka dinyatakan ”mati”. Mereka juga merasakan seolah jiwa mereka membumbung melalui suatu ruang yang gelap serta mendengar aneka suara, sedang di ujung ruang yang gelap itu mereka bertemu dengan makhluk bercahaya yang memperlihatkan kepada mereka rekaman hidup mereka secara detail. Lalu kemudian mereka dinyatakan untuk kembali. Dan setelah kembali, mereka dinyatakan hidup kembali sebagaimana keadaan manusia di pentas bumi ini. Peristiwa mati klinis yang terjadi berkali-kali ini, membuktikan bahwa kematian sama dengan tidur, hanya saja kematian melumpuhkan jasmani manusia, sedangkan tidur tidak demikian. Jika orang berkata bahwa mati sama dengan tidur, maka pastilah mati terasa nyaman. Mengantuk itu nyaman dan yang lebih nyaman dari mengantuk adalah tidur, dan yang lebih nyaman dari tidur adalah mati. Filsuf Jerman, Schopenhauer, yang berpandangan pesimistis melanjutkan, bahwa yang lebih nyaman dari mati adalah tidak wujud sama sekali. Setiap hari kita telah berlatih untuk menemui kematian yang sesungguhnya. Tetapi seringkali kita merasa betapa kematian kita masih begitu jauhnya. Kehidupan anda adalah tarikan nafas yang terhitung jumlahnya. Setiap berlalu sekali tarikan, maka terkurangi pula jumlah bilangannya. Kematian hanyalah berpisahnya badan dengan jiwa dan ruh untuk sementara waktu. Tapi bukan untuk 1-2 jam, melainkan untuk beberapa waktu yang tidak kita ketahui hingga kita bangun dari kematian itu di Hari Kebangkitan. Kejadiannya persis seperti pada saat kita terbangun dari tidur kita sehari-hari. Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. Mereka berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya). (Q.S. Yaasiin [36]: 51-52). Akankah kita termasuk orang-orang yang menyesal saat ’dibangunkan’ kembali kelak? ataukah kita termasuk hamba-hamba yang berbahagia? semua itu bergantung kepada bagaimana saat-saat sebelum kita berangkat ’tidur’. Kalau kita termasuk orang-orang yang sudah terlatih untuk memasuki tidur dengan baik, maka insya Allah kita akan bangun kembali dalam keadaan yang bugar dan segar. Tapi kalau kita memasuki saat-saat tidur dengan penuh masalah membelit kehidupan kita, maka sungguh tidur kita akan menjadi mimpi buruk bagi kita. Dan tiba-tiba kita terbangun dalam kondisi sakit dan dada sesak. Celakanya, mimpi buruk itu ternyata menjadi kenyataan pada saat kita terbangun dari tidur panjang itu. Jiwa kita yang terlanjur kotor selama berada di dunia ternyata harus dibersihkan di dalam api yang bernyala-nyala di neraka jahannam. Seperti halnya dikisahkan pada Fir’aun. Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”. (Q.S Al Mu’min [40]: 45-46). Berbeda dengan mereka yang telah melatih dan membiasakan dirinya untuk hidup bersih penuh kedamaian dan cinta kasih. ‘Tidur’ mereka sungguh adalah tidur yang penuh nikmat. Tidurnya para jiwa yang penuh kedamaian (nafs al muthmainnah). Mereka bermimpi indah sepanjang tidurnya yang pulas. Dan di ‘esok harinya’, mereka terbangun dalam kebahagiaan jiwa yang fitri, di surga Jannatun Na’im. Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Q.S. al-Fajr [89]: 27-30). Wallahualam bissawab dan hanya Allah yang maha Tahu.

Friday, March 15, 2013

Rama - Kau Yang Telah Mengikatku

Rama - Kau Yang Telah Mengikatku Kau yg tlah mengikatku Dan selimuti pandangan khayalku Menyentuh hati tuk mencintai Sikap cantikmu yang menghanyutkan Kaulah bungaku kaulah cintaku Kau yang tlah menumbuhkan Dengan lembutmu belai mata hatiku Dan memaksaku suarakan hatiku Menyanyikan lagu cinta untukmu Karna bayangmu slalu ikuti...... Reff: Kemana kau kan pergi Kemana ku berlari Tetapku mencintai Kau yang tlah memelukku Dimana kau berada Disini ku kan rindu Dan tetap tuk cinta kau Yang tlah mencintaiku......

Friday, January 4, 2013

12 Ciri Sahabat Sejati Menurut Imam al-Ghazali

Ingatlah kapan terakhir kali Anda berada dalam kesulitan.Siapakah yang berada di samping Anda?Siapakah yang mengasihi Anda ketika Anda merasa tidak dicintai?Siapakah yang tetap bersama Anda, bahkan ketika Anda tak bisa memberikan apa-apa?Itulah SAHABAT Anda.Bagaimanakah kita bisa mengukur persahabatan sejati itu? Mari kita simak 12 Ciri Sahabat Sejati Menurut Imam al-Ghazali di bawah ini:Jika kau berbuat baik kepadanya, maka ia juga akan melindungimu;Jika engkau merapatkan ikatan persahabatan dengannya, maka ia akan membalas balik persahabatanmu itu;Jika engkau memerlukan pertolongn darinya, maka ia akan berupaya membantu sesuai dengan kemampuannya;Jika engkau menawarkan berbuat baik kepadanya, maka ia akan menyambut dengan baik;Jika ia memproleh suatu kebaikan atau bantuan darimu, maka ia akan menghargai kebaikan itu;Jika ia melihat sesuatu yang tidak baik dari dirimu, maka akan berupaya menutupinya;Jika engkau meminta sesuatu bantuan darinya, maka ia akan mengusahakannya dengan sungguh-sungguh;Jika engkau berdiam diri (karena malu untuk meminta), maka ia akan menanyakan kesulitan yang kamu hadapi;Jika bencana datang menimpa dirimu, maka ia akan berbuat sesuatu untuk meringankan kesusahanmu itu;Jika engkau berkata benar kepadanya, niscaya ia akan membenarkanmu;Jika engkau merencanakan sesuatu kebaikan, maka dengan senang hati ia akan membantu rencana itu;Jika kamu berdua sedang berbeda pendapat atau berselisih paham, niscaya ia akan lebih senang mengalah untuk menjaga.Ingatlah kapan terakhir kali Anda berada dalam kesulitan. Siapakah yang berada di samping Anda? Siapakah yang mengasihi Anda ketika Anda merasa tidak dicintai? Siapakah yang tetap bersama Anda, bahkan ketika Anda tak bisa memberikan apa-apa? Itulah SAHABAT Anda. Apakah kita telah memiliki sahabat sejati seperti itu? Bukankah lebih baik jika kita introspeksi diri dulu, apakah diri kita sudah layak disebut sebagai sahabat sejati? Dalam masa kejayaan, teman-teman mengenal kita. Dalam masa kesulitan, kita mengenal siapa sahabat kita.