Tuesday, May 7, 2013

CITRA ISLAM DI EROPA

Efek negatif dan peristiwa sejarah Kristen-Muslim  tercermin
dalam  pandangan  mengenai  Islam yang muncul dari literatur
dan pemikiran Barat.  Walaupun  ada  saat-saat  berhubungan.
saling  mengetahui,  dan pertukaran yang bersifat membangun,
pada umumnya ekspansi Muslim ke Eropa, dari penaklukan  Arab
hingga  Perang  Salib  dan Kerajaan Utsmaniyah, menghasilkan
permusuhan  dan  ketidakpercayaan   terhadap   Islam,   yang
terutama  dipandang  sebagai  ancaman  bagi Kristen. Warisan
ini, seperti yang dikatakan oleh Albert Hourani, "masih  ada
dalam  kesadaran  Eropa,  yang  masih takut dan pada umumnya
masih salah paham."[1] Rasa takut dan penghinaan yang bersatu
dengan  etnosentrisme  Eropa  mengakibatkan  citra Islam dan
Muslim yang terdistorsi dan menjadikan para ilmuwan  beralih
dari  studi  tentang  kontribusi  Islam  ke pemikiran Barat.
"Sebelum tahun-tahun di antara dua Perang Dunia, usaha  yang
serius   dilakukan  untuk  memahami  kontribusi  Islam  pada
perkembangan pemikiran Barat dan dampaknya  pada  masyarakat
Barat yang berada di lingkungan Islam."[2]
 
Pada  penaklukan-penaklukan  Arab  abad ke-7, Kristen sekali
lagi merasakan Islam  sebagai  ancaman  ganda,  baik  secara
teologis  maupun politis. Perang Salib untuk pertama kalinya
telah  membuat  Islam   sangat   dikenal   di   Eropa   abad
pertengahan, walaupun tidak dipahami. R.W. Southern menulis:
"Sebelum tahun 1100, saya menemukan hanya satu kali  sebutan
nama  Muhammad  dalam  literatur  abad  pertengahan  di luar
Spanyol dan Italia Selatan. Tetapi sejak tahun  1120  setiap
orang  di  Barat  mempunyai gambaran mengenai apa arti Islam
dan siapa Muhammad. Gambaran itu sangat  jelas,  tetapi  itu
bukan  pengetahuan... Para penulisnya menikmatkan diri dalam
kebodohan akan imajinasi kemenangan."[3]
 
Kebodohan ini  bukan  hanya  mencerminkan  pengetahuan  yang
kurang  tetapi  juga kecenderungan manusia pada umumnya baik
di antara orang-orang  terpelajar  maupun  tidak  terpelajar
untuk  mengecam dan menjelek-jelekkan musuhnya, untuk merasa
unggul dan memusnahkan hal-hal yang menantang dan  mengancam
kepercayaan  atau  kepentingannya  dengan  mencapnya sebagai
sesuatu yang jelek, sesat, fanatik, atau irasional. Gambaran
atau  karikatur  yang  menjelek-jelekkan  Muhammad dan Islam
diciptakan -atau  lebih  tepatnya,  dikarang-  dengan  tidak
memperhatikan  ketepatan.  Acapkali  kepercayaan dan praktek
seperti  politeisme,  memakan  daging  babi,  minum  minuman
keras,  dan  promiskuitas  seksual -yang sangat bertentangan
dengan kepercayaan  dasarnya-  diarahkan  kepada  Islam  dan
Muhammad.    Muhammad   difitnah   sebagai   pembohong   dan
anti-Kristus yang  menggunakan  sihir  dan  keajaiban  untuk
mencoba  menghancurkan  gereja.  Seperti diakui oleh penulis
(non-Muslim)  sebuah  biografi  awal  Nabi   Muhammad   yang
diterbitkan  di Barat, "Adalah aman untuk mengatakan hal-hal
jelek tentang seseorang yang kejahatannya  melampaui  segala
perbuatan jahat yang dapat dikatakan."[4] Epik besar pada saat
itu menyebarkan kebodohan dan distorsi,  yang  menggambarkan
kaum  Muslim  yang  menyembah  patung sedang menyembah Tuhan
mereka,  Muhammad,  "di  sinagog  (dengan  demikian  semakin
mendekatkan Islam kepada kepercayaan Yahudi yang tidak dapat
diterima) atau di mahomeri." Maxime Rodinson berkata: "Fiksi
murni, yang sasarannya hanya untuk menarik perhatian pembaca
dicampur aduk dalam  proporsi  yang  beraneka  ragam  dengan
kesalahpahaman yang mengobarkan kebencian musuh."[5]
Pada  masa  Reformasi,  setelah berabad-abad dalam ketakutan
dan permusuhan, Islam terbukti  merupakan  alat  yang  tepat
dalam  serangan-serangan  polemik  di  antara  kaum Kristen,
lambang bahaya anti-Kristus. Martin Luther memandang  Islam
"dalam   gaya   abad   pertengahan,  sebagai  suatu  gerakan
kekerasan  untuk  melayani  anti-Kristus;  itu  tidak  dapat
diubah  karena  tertutup  bagi  akal; hanya dapat dihentikan
dengan pedang dan bahkan dengan suatu usaha yang sulit."[6]
 
Pada abad-abad berikutnya, Islam terus dipergunakan  sebagai
sesuatu  yang  jelek  bagi  para  penulis yang mengunggulkan
prinsip dan kebajikan Pencerahan.  Fanaticism,  or  Muhammad
the  Prophet  karya  Voltaire  menggambarkan  Nabi  Muhammad
sebagai tiran yang teokratis.  Ernest  Renan,  dalam  sebuah
kuliah  yang  sering  dikutip, mengunggulkan sains dan nalar
serta kemajuan manusia, dengan mengatakan bahwa Islam  tidak
sesuai  dengan  sains, dan bahwa  kaum  Muslim tidak mampu
belajar ataupun membuka diri terhadap gagasan-gagasan baru.[7]
Stereotip  tradisi  agama  yang statis, irasional, tidak ada
kemajuan dan antimodern ini diabadikan oleh para  pakar  dan
teori pembangunan dalam abad ke-20.
 
Walaupun  dunia  Islam dan Kristen sangat membanggakan agama
dan kekayaan tradisi belajar dan peradaban mereka,  dinamika
sejarah  hubungan  Islam-Kristen  kerap menjumpai kedua umat
tersebut  bersaing,   dan   terkadang   terperangkap   dalam
peperangan,  untuk  mendapatkan  kekuasaan,  tanah dan jiwa.
Akibatnya, mereka lebih sering bermusuhan daripada  bersikap
sebagai  sesama  Ahlul  Kitab  yang  berusaha  mematuhi  dan
mengabdi kepada Tuhan mereka. Bagi Kristen,  Islam  terbukti
sebagai  ancaman ganda, baik dalam hal agama maupun politik,
yang sering mengancam untuk menyerang  Eropa,  mula-mula  di
Poitiers  dan  akhirnya  di gerbang Wina. Bukan lelucon jika
beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa jika  tentara  Muslim
tidak  dikalahkan  di  Poitiers,  mungkin bahasa Oxford, dan
juga  bahasa  Eropa  sendiri,  adalah  bahasa  Arab!  Gereja
Kristen  yakin  memiliki  kebenaran  dan  ditakdirkan  untuk
mengemban  misi  menyelamatkan  maksud-maksud  kepausan  dan
kerajaan  yang  absah.  Selain  itu,  ia memperkuat perasaan
unggul dan benar yang  memberikan  alasan  bagi  mencemarkan
nama   musuh  secara  religius,  intelektual  dan  kultural.
Sikap-sikap  yang  sama  ini  membuahkan  keberhasilan  bagi
tentara  Muslim  dan  penyebaran  Islam yang cepat oleh para
tentara, pedagang, dan da'i yang lebih  merupakan  tantangan
bagi agama dan kekuasaan Kristen. Kalau sepuluh abad pertama
tampak sebagai pertandingan  yang  tidak  seimbang  di  mana
Kristen lebih sering terkepung, masa awal kolonialisme Eropa
menunjukkan   adanya   pergeseran   kekuasaan:   sejak   itu
kolonialisme  mendominasi  sejarah dan jiwa kaum Muslim, dan
terus   menerus,   dan   kadang-kadang   secara    dramatis,
mempengaruhi  hubungan  antara  Islam dan Barat sampai kini.
Dengan adanya Revolusi Iran tahun 1978-1979 dan  yang  lebih
akhir,   Perang   Teluk   1991,   citra  pejuang  Salib  dan
imperialisme  Barat  tetap  hidup,  suatu  pengalaman   yang
benar-benar  hidup dalam kesadaran dan retorika politik kaum
Muslim. []
 
Catatan kaki:
[6]: Hourani, Europe and the Middle East, hlm. 10.
[7]: Ibid., hlm. 12.Sumber. 

KERAJAAN UTSMANIYAH: MUSUH EROPA

Tak lama setelah Perang Salib  berlalu,  Eropa  sekali  lagi
harus  berhadapan  dengan  ancaman kekuatan kaum Muslim yang
berupa kerajaan Utsmaniyah. Kerajaan Utsmaniyah adalah salah
satu   di   antara   tiga   kesultanan   besar  Muslim  abad
pertengahan: Utsmaniyah, Safawiyah di  Iran,  dan  Mogul  di
India.  Seperti  yang  ditulis  oleh  C.E.  Bosworth,  lebih
daripada  kerajaan  lain  sejak  masa  awal  penaklukan  dan
ekspansi  Arab,  "Orang  Turki  Utsmaniyah telah menimbulkan
ketakutan di hati Eropa Kristen, sehingga  Richard  Knollys,
ahli   sejarah  Turki  di  masa  Elizabeth  mengungkapkannya
sebagai  'teror  dunia   masa   kini.'"[1] Setelah   merebut
Konstantinopel  pada  tahun 1453, Utsmaniyah mulai membangun
negara besar yang benar-benar  terorganisasi,  hirarkis  dan
efisien.  Ibukota  kerajaan,  Istanbul, dengan penduduk yang
tumbuh menjadi 700.000 -dua kali  lebih  besar  dari  negara
lawan,   Eropa-   menjadi  pusat  kekuasaan  dan  kebudayaan
internasional.[2] Utsmaniyah menjadi pasukan besar Islam yang
menciptakan  kerajaan  dunia yang meliputi pusat Muslim yang
utama seperti Kairo, Baghdad, Damaskus, Makkah, dan Madinah.
Mereka mengancam Eropa selama hampir dua abad.
 
Deretan   sultan-sultan  yang  cakap  (seperti  Mehmet  Sang
Penakluk 1451-81 , Sulaiman Yang  Agung  1520-66),  memimpin
angkatan  darat  dan laut Utsmaniyah yang menguasai sebagian
besar Mediterania dan  Samudera  India.  Mereka  menciptakan
kerajaan   yang   ukuran,   kemakmuran,   pemerintahan,  dan
kebudayaannya  menyaingi  Abbasiyah.   Kerajaan   Utsmaniyah
menguasai   negara-negara   Balkan  yang  Kristen  dan  juga
sebagian besar Timur Tengah serta Afrika Utara. Seperti pada
awal  penaklukan Arab, kebijaksanaan mereka terhadap Kristen
Ortodoks dan minoritas  agama  lainnya  seringkali  diterima
dengan baik oleh penduduk: "Kebijaksanaan 'hidup dan biarkan
hidup' ini sangat kontras dengan  kefanatikan  negara-negara
Kristen  pada  saat itu. Kaum petani Balkan pada masa Mehmet
seringkali berucap: 'Lebih baik turban Turki daripada  tiara
Paus.'"[3] Namun, kalau  di  Balkan  banyak orang menganggap
Utsmaniyah  sebagai  pembebas,  Eropa  tampaknya   mengalami
trauma.
 
Para   penulis   dan   ahli   agama  berusaha  memperbaharui
kecaman-kecaman terhadap musuh yang menjadi ciri masa Perang
Salib...  Kardinal Bessanon, yang menulis kepada The Doge of
Venice setelah  jatuhnya  Kollstantinopel,  menentukan  nada
bagi  perlakuan  buruk  selama  satu abad: "Sebuah kota yang
sedemikian maju... kemuliaan dan keagungan  Timur...  tempat
segala  keindahan,  telah  direbut, dirusak, dan benar-benar
dirampas oleh bangsa barbar yang paling  tidak  manusiawi...
oleh   binatang   buas   yang  paling  menakutkan...  Bahaya
mengancam Italia, belum  lagi  tempat-tempat  lainnya,  jika
musuh   besar   barbar  yang  sangat  menakutkan  itu  tidak
dicegah.[4]
Kata-kata yang kasar dan propaganda dipopulerkan oleh  karya
terlaris  Bartholomew  Gregevich  dari Kroasia, Miseries and
Tribulations of the Christians Held in Tribute  and  Slavery
by  the  Turks.[5] Turki yang  bermusuhan, yang lebih banyak
diinformasikan dengan  hawa  nafsu  daripada  dengan  nalar,
mengalahkan  kalangan  suara  minoritas diplomat dan ilmuwan
yang benar-benar melihat Turki atau mempelajari Turki dengan
adil  dan,  seperti  ahli  filsafat  politik  Perancis, Jean
Bodin, yang dapat mencatat:
 
Raja Turki yang memerintah sebagian besar  Eropa  melindungi
ritus  agama  dan  para  pangeran  di  dunia  ini. Dia tidak
memaksa seorang pun, tetapi justu  mengizinkan  orang  untuk
hidup  sesuai  dengan  panggilan  jiwanya.  Lebih  lagi,  di
istananya di Pera ia mengizinkan praktek empat macam  agama,
Yahudi,  Kristen  menurut  ritus  Roma,  dan  menurut  ritus
Yunani, serta Islam.[6]
 
Ancaman Utsmaniyah memberikan kontribusi  pada  perkembangan
"Eropa" sebagai pusat identitas dari ikatan bersama di dalam
Kristen Eropa yang terpecah-pecah sebagai akibat  reformasi.
Karena itu,  "Erasmus  mendesak  bangsa  Eropa    tidak lagi
menyebutnya  sebagai  kekuatan  Kristen-   untuk   memerangi
Turki."[7]
 
Kekuasaan    dan   keagungan   Utsmaniyah   terjadi   berkat
perkembangan sistem pelatihan para pemuda dalam  kemiliteran
dan administrasi. Hal itu menghasilkan birokrasi dan militer
kelas satu yang  benar-benar  bertumpu  pada  para  ulamanya
serta  satuan  pejabat  dan  tentara  budak  elite, Janisari
(salah satu  bagian  invanteri  Turki  -  penerjemah).  Para
pemuda   Kristen   diambil   dari   penduduk   Balkan   yang
ditaklukkan, dan setelah itu  dari  Anatolia,  mereka  masuk
Islam dan dikirim ke sekolah-sekolah khusus yang melatih dan
menghasilkan   bergenerasi-generasi   pejabat    Utsmaniyah.
Gabungan  pejabat  yang  berkualitas tinggi dan militer yang
terlatih dan berdisiplin dan mampu memantaatkan serbuk mesiu
menjadikan  Utsmaniyah  dapat menaklukkan wilayah besar Arab
dan Eropa: "Disiplin dan daya tembak tentara inilah (tentara
Utsmaniyah  menggunakan artileri dan senjata tangan...) yang
menciptakan citra keperkasaan  dan  kekuatan  Utsmaniyah  di
Eropa.[8] Kira-kira  delapan  ratus  tahun  setelah  ancaman
pertama Arab ke Eropa, Islam, yang  kini  berada  di  tangan
Turki,  tampak  lebih  mengancam.  Setelah menguasai Balkan,
tampaknva mereka siap menguasai Eropa Barat. Sejak abad  ke-
15 hingga 17 pasukan Utsmaniyah tampaknya terlalu kuat untuk
kaum Kristen Eropa. Namun kekalahan angkatan laut Utsmaniyah
di  Lepanto  pada  tahun  1571  merupakan  titik  balik yang
dianggap sebagai kemenangan  Kristen  Eropa  melawan  Muslim
Turki,  dan  keberhasilan  pertahanan  Wina  pada tahun 1683
memperkuat  runtuhnya  ancaman  Utsmaniyah  dan   pergeseran
kekuasaan  ke  tangan  Eropa  yang  kini  percaya  diri  dan
memperoleh kekuatannya  kembali.  "Bencana  Kristen"  segera
menjadi "orang sakit Eropa."[9]
 
Perang Salib dan kerajaan Utsmaniyah jelas menunjukkan bahwa
walaupun akar teologis Kristen dan Islam  sama,  kepentingan
politik  dan  agama yang terus bersaing menghasilkan sejarah
konfrontasi  dan  peperangan  dimana  Eropa  Kristen  selama
berabad-abad  sering  bertahan terhadap tentara Muslim, yang
tampaknya kadangkala bertempur demi eksistensinya.
 
Catatan kaki:
[5]: Ibid., hlm. 147.
[6]: Ibid., hlm. 151.
[7]: Ibid., hlm. 148.
[8]:
Bosworth, "Historical Background," hlm. 25.
[9]: Ibid., hlm. 139.Sumber. 

PERANG SALIB

Beberapa   peristiwa   mempunyai   pengaruh    yang    lebih
menggetarkan  dan  tahan  lama  pada hubungan Muslim-Kristen
daripada Perang Salib. Dua  mitos  meliputi  persepsi  Barat
mengenai  Perang  Salib:  pertama, kemenangan Kristen; kedua
bahwa Perang Salib  itu  dilakukan  hanya  untuk  pembebasan
Yerusalem.  Bagi banyak orang Barat, fakta-fakta khusus yang
menyangkut Perang Salib hanya diketahui secara samar-samar.[1]
Sebenarnya  banyak orang tidak mengetahui siapa yang memulai
peperangan itu, mengapa berperang, atau bagaimana peperangan
itu  dimenangkan. Bagi kaum Muslim, kenangan mengenai Perang
Salib itu tetap hidup, yang merupakan contoh Kristen militan
paling  jelas,  pertanda  awal agresi dan imperialisme Barat
Kristen, kenangan yang hidup akan  permusuhan  awal  Kristen
terhadap  Islam.Jika  banyak  orang menganggap Islam sebagai
agama pedang, maka kaum  Muslim  selama  berabad-abad  telah
membicarakan  ambisi  dan  mentalitas  Tentara  Salib Barat.
Karena itu, untuk hubungan  Muslim-Kristen,  hal  itu  bukan
merupakan masalah mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam
Perang Salib melainkan bagaimana hal-hal tersebut diingat.
 
Perang Salib (Crusades), yang namanya diambil  dari  "Cross"
(Crux  dalam  bahasa  latin),  merupakan  delapan  ekspedisi
militer yang terjadi sejak abad ke-11 hingga 13 yang membuat
orang-orang  Kristen  (tentara Kristen Franks) melawan Islam
(tentara Muslim Saracens). Abad ke-11 ditandai sebagai  saat
yang menentukan dalam hubungan Barat dengan dunia Islam.
 
Hingga   tahun   1000,   Barat   merupakan   daerah  miskin,
terbelakang, dan buta huruf. Mereka mempertahankan diri dari
serangan  bangsa barbar yang terjadi di darat dan di laut...
Selama empat abad, Islam mengalami  kedamaian  dan  keamanan
intern,  sehingga  mampu  membangun  kebudayaan  urban yang,
cemerlang  dan  mengesankan.  Kini  situasinya   benar-benar
berubah...  Perdagangan  hidup  kembali (di Barat), kota dan
pasar bermunculan; penduduk  bertambah...  seni  serta  ilmu
pengetahuan  mengalami  kemajuan  sedemikian rupa sejak masa
Kerajaan Roma.[2]
 
Bangsa Barat yang bangkit dari zaman  kegelapan,  mengadakan
penyerangan  untuk mengusir kaum Muslim dan Spanyol, Italia,
Sisilia,  dan  Mediterrania  pada  saat  dunia  Islam  telah
mengalami kemajuan dalam perjuangan politik dan agama.
 
Ketika  kekuatannya  dikalahkan  oleh  tentara  Abbasiyah di
akhir abad ke-15, Raja Byzantium,  Alexius  I,  yang  merasa
khawatir  bahwa tentara Muslim akan memenangkan seluruh Asia
dan  menduduki  ibukota  kerajaan,  Konstantinopel,  memohon
bantuan  Barat.  Ia mengimbau kepada sesama penguasa Kristen
dan Paus untuk mengusir kaum Muslim dengan "berziarah" untuk
membebaskan  Yerusalem dan sekitarnya dari tangan pemerintah
Muslim.  Yerusalem  adalah  kota  suci  bagi  ketiga   agama
berdasarkan ajaran Nabi Ibrahim. Kota tersebut telah direbut
oleh tentara Islam tahun 638 pada masa bangsa Arab melakukan
ekspansi  dan  penaklukan. Di bawah pemerintahan orang-orang
Muslim, gereja dan  penduduk  yang  beragama  Kristen  tidak
pernah       diganggu.      Tempat-tempat      suci      dan
peninggalan-peninggalan Kristen menjadi tempat  yang  selalu
dikunjungi oleh orang-orang Kristen. Orang-orang Yahudi yang
sejak lama dilarang tinggal di tempat  itu  oleh  pemerintah
Kristen, kini diperbolehkan kembali tinggal dan beribadah di
kota  Nabi  Sulaiman  dan  Nabi  Daud.  Orang-orang   Muslim
membangun  sebuah  tempat  ibadah,  Dome  of the Rock (Kubah
Batu)  dan  Al-Aqsha  di  dekat  The  Wailing  Wall  (Tembok
Ratapan),  sisa-sisa  terakhir  Istana Sulaiman, dan menjadi
tempat yang sangat khusus bagi  Yudaisme.  Lima  abad  hidup
berdampingan   dengan   damai   kini   porak-poranda  karena
perang-perang suci yang membuat  Kristen  berperang  melawan
Islam dan berakibat terciptanya perasaan tidak percaya serta
salah paham yang tak berkesudahan. 
Peperangan Salib itu dimulai dengan tanggapan Paus Urban  II
terhadap  permohonan  Raja  Alexius.  Pada tahun 1095, Urban
menyerukan pembebasan Tanah  Suci  dari  tangan  orang-orang
kafir,   dan  mengadakan  perang  suci  yang  sudah  menjadi
tradisi.  Bagi  Paus,  panggilan  untuk  membela  agama  dan
Yerusalem   memberikan  suatu  kesempatan  untuk  memperoleh
pengakuan atas otoritas  kepausannya  dan  peranannya  untuk
mengabsahkan  pemerintah  sementara, dan untuk mempersatukan
kembali gereja-gereja Timur (Yunani) dan Barat (Latin).
 
Seruan peperangan Paus -"Itulah kehendak  Tuhan!"-  terbukti
berhasil.  Pendekatan  agama  berhasil memikat pikiran orang
dan  memanfaatkan  kepentingan  diri  banyak   orang,   yang
menghasilkan persatuan dan kembalinya kekuatan Kristen. Para
pemerintah, pedagang, dan  ksatria  Kristen  terdorong  oleh
keuntungan-keuntungan  ekonomi dan politik yang akan dipetik
dengan tegaknya kerajaan Latin di Timur Tengah. Para ksatria
dari  Perancis  dan  bagian-bagian  lain  Eropa  Barat, yang
terdorong oleh fanatisme agama  dan  harapan  akan  pampasan
perang,  bersatu  melawan  orangorang  "kafir"  dalam  suatu
peperangan yang  tujuannya  adalah  membebaskan  kota  suci:
"Mungkin  Tuhan  memang  menghendakinya,  tetapi  yang pasti
tidak  ada  bukti  bahwa   orang-orang   Kristen   Yerusalem
mempunyai  harapan  itu,  atau  ada  sesuatu yang luar biasa
dalam sejarah yang tertadi pada jamaat di sana sehingga pada
saat itu mereka memberikan tanggapan yang demikian.[3] Perang
Salib diilhami oleh dua institusi Kristen, yaitu  ziarah  ke
tempat  suci  dan perang suci: pembebasan tempat-tempat suci
dari tangan  kaum  Muslim  berkarakterkan  keduanya.  Ziarah
memainkan  peran  penting bagi kesalehan Kristen. Mendatangi
tempat-tempat  suci,  menghormati  peninggalan  keramat  dan
melakukan   penebusan   dosa  memberikan  (orang-orang  yang
mengecam akan mengatakan "membeli") janji pengampunan  dosa.
Yerusalem,  pusat  lahirnya  Kristen, merupakan lambang kota
Tuhan, yang karenanya merupakan tempat suci. Pada waktu yang
sama, gagasan perang suci mengubah dan menyucikan peperangan
di abad-abad  pertengahan  beserta  gagasan  kehormatan  dan
keksatriaannya.   Para   pejuang  itu  menang,  baik  mereka
memenangkan peperangan  di  dunia  maupun  tidak.  Memerangi
musuh  artinya  terhormat  dan mulia, ganjaran yang diterima
oleh semua yang berperan dalam Perang Salib  berupa  jaminan
diampuni  dosanya  dan  masuk  surga.  Mati dalam peperangan
adalah meninggal sebagai pahlawan agama dan  langsung  masuk
surga walaupun mempunyai dosa-dosa di masa yang lalu.
 
Dalam   keadaan  terpecah-pecah,  reaksi  kaum  Muslim  yang
pertama tidak efektif; tentara Salib yang  pertama  mencapai
Yerusalem dan merebutnya pada tahun 1099. Namun keberhasilan
kaum Kristen tidak berlangsung lama: "Para pejuang  Salib...
lebih  merupakan gangguan daripada ancaman serius bagi dunia
Islam."[4] Pada pertengahan  abad   ke-12,   pasukan   Islam
menanggapi  secara  efektif.  Di  bawah kepemimpinan Saladin
yang mumpuni (Shalah  Al-Din,  wafat  1193),  salah  seorang
jenderal  dan  pemerintah  Muslim paling terkenal, Yerusalem
direbut  kembali  pada  tahun  1187.  Keadaan  berubah   dan
momentumnya tetap berada di tangan pasukan kaum Muslim. Pada
abad  ke-13,  Perang  Salib  telah  berubah  menjadi  perang
saudara  Kristen,  perang melawan musuh-musuh yang oleh Paus
dikatakan sebagai sesat. Akhirnya, sesuatu  yang  ditakutkan
yang  telah  menimbulkan  perang  suci  Kristen  itu, dengan
seruannya agar kaum Kristen bersatu untuk merebut  kekuasaan
kaum   Muslim,   terjadi  pada  tahun  1453  ketika  ibukota
Byzantium,  Konstantinopel,  jatuh  dan  diberi  nama  baru,
Istanbul,   yang   kemudian   menjadi   kedudukan   Kerajaan
Utsmaniyah. Impian penguasa dan tentara Muslim  yang  muncul
sejak  abad ketujuh menjadi kenyataan. Sebaliknya, ketakutan
kaum Kristen dan ancaman  Islam  yang  kuat,  ekspansif  dan
terus-menerus  makin  meluas  sampai  ke  Eropa  Timur, yang
sebagian besarnya dikuasai Kerajaan Utsmaniyah.
 
Warisan Perang Salib ini tergantung  pada  tempat  seseorang
berpijak  dalam  sejarah.  Kaum  Kristen dan Muslim bersaing
dalam visi dan kepentingan  serta  masing-masing  senantiasa
ingat  pada  komitmennya  terhadap  agama,  dan  kisah-kisah
kepahlawanan melawan kaum  "kafir."  Bagi  banyak  orang  di
Barat,  dugaan  mengenai  kemenangan Kristen didasarkan pada
sejarah  yang  diromantiskan  untuk  merayakan  kepahlawanan
pejuang     Salib     dan     juga    kecenderungan    untuk
menginterpretasikan sejarah melalui pengalaman  kolonialisme
Eropa  dari kekuasaan Amerika selama dua abad yang baru lalu
ini. Masing-masing agama  melihat  satu  sama  lain  sebagai
militan,  agak  barbaris  dan  fanatik,  cenderung menjajah,
mengubah atau memusnahkan yang  lainnya,  dan  itulah  suatu
halangan  dan ancaman bagi terealisasikannya kehendak Allah.
Pertentangan mereka berlanjut terus selama masa  Utsmaniyah,
melalui  arus  kolonialisme  Eropa,  dan  akhirnya  ke dalam
persaingan negara-negara adidaya pada abad ke-20.
 
Catatan kaki:
[3]: Peters, "Early Muslim Empires," hlm. 85.
[4]: Saunders, History, hlm. 161.
Sumber. 

KAUM NON-MUSLIM DI NEGARA ISLAM

Penduduk asli wilayah yang ditaklukkan dapat digolongkan  ke
dalam  tiga  umat  "skriptural"  (ahlul  kitab)  besar: umat
Kristen,  Yahudi,  dan  Zoroaster.  Bagi   banyak   penduduk
non-Muslim  di  Byzantium  dan  Persia  yang  telah menyerah
kepada pemerintah asing, peraturan Islam  berarti  perubahan
pemerintah,  yang  seringkali  lebih  fleksibel dan toleran,
bukannya  kehilangan  kemerdekaan.  Banyak   dari   penduduk
tersebut  kini  menikmati otonomi lokal yang lebih besar dan
seringkali pajak yang dibayar  lebih  rendah.  Wilayah  Arab
yang   pernah   direbut   Byzantium   mengganti   pemerintah
Yunani-Roman dengan pemimpin-pemimpin Arab yang baru, sesama
Semit  yang  mempunyai  afinitas  linguistik  dan kebudayaan
dengan penduduk. Islam terbukti merupakan agama  yang  lebih
toleran, memberikan kebebasan beragama yang lebih besar bagi
orang-orang  Yahudi  dan  Kristen.  Sebagian  besar   gereja
Kristen   setempat   sebelumnya  dicap  sesat  oleh  Kristen
ortodoks "asing." Dengan alasan-elasan inilah sebagian orang
Yahudi  dan  Kristen  membantu  tentara Islam yang melakukan
invasi. Francis Peters telah mengamati:[1]
 
Penaklukan itu hanya sedikit merusak: yang  mereka  berangus
adalah  persaingan  kerajaan  dan  pertikaian  sektarian  di
antara para  penduduk  taklukan.  Kaum  Muslim  mentoleransi
agama Kristen tetapi menjadikannya tidak established; karena
itu kehidupan  dan  tata  kebaktian,  politik,  dan  teologi
orang-orang  Kristen  menjadi  urusan  pribadi, bukan urusan
umum. Dengan ironi itu, Islam mereduksi  status  orang-orang
Kristen   seperti  apa  yang  mereka  (orang-orang  Kristen)
lakukan dahulu  terhadap  orang-orang  Yahudi,  dengan  satu
perbedaan.  Pereduksian status orang Kristen ini semata-mata
bersifat yudisial; tidak  disertai  dengan  pengejaran  yang
sistematis atau pembunuhan, dan pada umumnya tidak dilakukan
dengan perilaku rendah, walaupun hal ini  tidak  terjadi  di
setiap tempat dan setiap waktu.[2]
 
Para  penguasa Muslim cenderung tidak mengubah birokrasi dan
lembaga-lembaga pemerintah. Umat beragama bebas  menjalankan
agama  mereka  dan  urusan-urusan  intern mereka diatur oleh
hukum dan pemimpin agama mereka. Seperti disebutkan di atas,
umat  beragama  diharuskan  membayar  pajak kepala(head/poll
tax), dan  sebagai  imbalannya  perlindungan  dan  kedamaian
menjadi  hak  mereka; dengan demikian mereka dikenal sebagai
"orang-orang yang  dilindungi."  Ideal  Islam  adalah  untuk
menciptakan  suatu  dunia  dimana,  dibawah penguasa Muslim,
penyembahan berhala dan  paganisme  dimusnahkan,  dan  semua
ahlul   kitab  dapat  hidup  dalam  sebuah  masyarakat  yang
dibimbing dan dilindungi oleh kekuasaan  Islam.  Jika  Islam
dianggap  sebagai  agama  Tuhan  yang terakhir dan sempurna,
maka umat lain harus diajak,  mula-mula  melalui  pembujukan
tanpa  menggunakan  pedang, untuk masuk kedalam agama Islam.
Dengan demikian kaum non-Muslim  diberi  tiga  pilihan:  (1)
masuk  Islam  dan menjadi anggota umat sepenuhnya; (2) tetap
dalam agama masing-masing dan  membayar  pajak  kepala;  (3)
jika  mereka  menolak  Islam  atau status "dilindungi," maka
berperang dibolehkan, sampai peraturan Islam diterima.
 
Catatan kaki:
[1]:
R. Stephen Humpreys, Islamic History A Framework for Inquiry
(Minneapolis,  Minnesota:  Bibliotheca Islamica, 1988), hlm.
250.
[2]:
Francis E. Peters,  "The  Early  Muslim  Empires:  Ummayads,
Abassids,  Fatimids,"  dalam Marjorie Kelly, ed., Islam: The
Religious and Political Life of a World Community (New York:
Praeger, 1984), hlm.79.
Sumber. 


ISLAM DAN BARAT

Ekspansi dan kejayaan kerajaan Islam yang berlangsung begitu
cepat  dan  berkembangnya peradaban Islam menimbulkan bahaya
langsung di pihak Kristen  di  seluruh  dunia,  baik  secara
teologis  maupun  politis.  Seperti  yang diamati oleh Maxim
Rodinson, "kaum Muslim merupakan  ancaman  terhadap  Kristen
Barat jauh sebelum mereka sendiri menjadi masalah."[1]
 
Persamaan  teologis yang ada antara Kristen dan Islam justru
menjadi penyebab perbenturan di antara keduanya. Setiap umat
percaya bahwa perjanjiannya dengan Tuhan merupakan pemenuhan
wahyu Tuhan kepada umat terdahulu  yang  telah  menyeleweng.
Masing-masing  percaya  pada  sejarah  wahyu Tuhan dan bahwa
wahyu serta pembawanya menandai akhir dari adanya wahyu  dan
kerasulan.  Dengan  demikian,  sementara orang-orang Kristen
merasa unggul dan karenanya hanya mempunyai sedikit  masalah
dengan  pandangan supersesionis terhadap Yudaisme, sikap dan
pernyataan  yang  sama  dari  kaum  Muslim  yang  menyangkut
Kristen  tak  terpikirkan.  Lebih  lagi,  hal  itu merupakan
ancaman terhadap keunikan dan peran yang  dimandatkan  Tuhan
kepada  Kristen  agar  menjadi  satu-satunya wakil Tuhan dan
satu-satunya jalan menuju keselamatan. Islam hanyalah sebuah
bid'ah  yang  disiarkan oleh nabi yang sesat atau palsu, dan
merupakan  tantangan  langsung  bagi  misi  dan   pernyataan
Kristen: "penggabungan rasa takut dan kebodohan menghasilkan
banyak legenda yang sebagian mengelikan dan  semuanya  tidak
adil:  para  Muslim  adalah penyembah berhala yang menyembah
trinitas yang salah, Muhammad adalah tukang sihir, ia bahkan
merupakan  kardinal  Gereja Roma yang karena ambisinya untuk
menjadi Paus terhalangi, maka memberontak, melarikan diri ke
Arab dan di sana mendirikan gerejanya sendiri."[2]
 
Baik  Kristen  maupun  Islam  menyatakan  bahwa  misinya itu
universal: masing-masing merupakan  komunitas  transnasional
yang  berdasarkan  kepercayaan  yang  sama  dan ajakan untuk
menjadi teladan  bangsa  di  dunia,  sarana  penyebaran  dan
kemenangan  kerajaan Tuhan. Namun tantangan Islam bukan pada
tingkat wacana dan perdebatan teologis. Keberhasilan mujahid
dan  tentara  Islam  dialami  sebagai  suatu  kekuatan  yang
tampaknya  datang  dari   suatu   tempat   untuk   menantang
keberadaan  dan  dasar-dasar  Kristen.  Walaupun orang-orang
Islam pada  mulanya  merupakan  minoritas  di  wilayah  yang
ditaklukkan,  pada  akhirnya  mereka menjadi mayoritas, yang
terutama karena masuknya  orang-orang  Kristen  setempat  ke
dalam  agama  Islam.  Tambahan  lagi, orang-orang yang tetap
beragama   Kristen   diarabkan,   menggunakan   bahasa   dan
kebudayaan Arab. Tanggapan dari Kristen Barat adalah, dengan
beberapa  pengecualian,  bertahan   dan   berperang.   Islam
merupakan  suatu  bahaya yang patut diperhitungkan. Kerajaan
Byzantium yang tak terkalahkan tumbang selama abad ke-7  dan
8.  Tentara  Muslim juga menaklukkan kerajaan Persia, Syria,
Irak,  Mesir,  dan  bergerak  memasuki  Afrika  Timur  serta
bagian-bagian   dari  Eropa  Selatan  hingga  mereka  hampir
memerintah seluruh Spanyol  dan  Mediterrania  dari  Sisilia
hingga  Anatolia.  Hubungan  teologis  dan  sejarah lama tak
terlihat  karena  orang-orang  Kristen  Barat,  gereja   dan
negara,  menghadapi  serangan  gencar  dari  satu musuh yang
lebih mudah  dianggap  iblis  barbar,  dan  kafir,  daripada
dipahami.
 
Catatan kaki:
[1]:
Maxime  Rodison,  "The  Western Image and Western Studies of
Islam," dalam Joseph Schact dan C.E. Bosworth, The Legacy of
Islam (Oxford: Oxford University Press. 1974), hlm. 9.
[2]:
Albert  Hourani,  Europe  and  the  Middle  East  (Berkeley:
University of California Press, 1980), hlm. 9.Sumber.

ASAL-USUL DAN SIFAT ISLAM

Walaupun asal-usul komunitas Islam  itu  dari  Muhammad  dan
abad ketujuh, orang-orang Islam - seperti Yahudi dan Kristen
- asal-usul tradisi agamanya (Islam) berasal dari Tuhan Yang
Esa  (Allah) melalui garis panjang kenabian. Dengan demikian
orang-orang Islam menekankan  bahwa  tradisi  Yudaeo-Kristen
lebih  tepat  dikatakan sebagai tradisi Yudaeo-Kristen-Islam
karena ketiganya merupakan putra-putra  Ibrahim  a.s.,  Nabi
pertama  yang menerima Wahyu Tuhan. Mereka sama-sama percaya
kepada  Nabi  Ibrahim  a.s.,  yang  percaya  kepada   Tuhan,
nabi-nabi  wahyu,  umat  yang  mengemban  mandat  Tuhan, dan
tanggung jawab  moral.[1] Jika asal-usul  orang  Yahudi  dan
Kristen  dari  Ibrahim  dan Sarah melalui Ishaq, orang Islam
pun demikian halnya melalui Isma'il, putra  pertama  Ibrahim
dan Hajar.
 
Kalau   dalam   kisah   suci   orang-orang  Yahudi  tercatat
kemenangan monoteisme yang diturunkan kepada  Adam,  Ibrahim
dan  Musa  dalam  dunia  politeistik,  demikian  juga  dalam
sejarah Islam terungkap proses yang  sama  dari  monoteisme,
kerasulan  dan  wahyu  Tuhan yang tidak mengenal kompromi di
kalangan  lingkungan  sosial  politeisme  kesukuan.[2] Kalau
orang-orang  Yahudi  mempunyai  Taurat,  orang-orang Kristen
mempunyai Injil, orang-orang Islam pun mempunyai Kitab  Suci
Al-Quran. Orang-orang Islam percaya bahwa Tuhan pertama kali
menurunkan  wahyu   kepada   bangsa   Yahudi   lalu   kepada
orang-orang  Kristen,  tetapi kemudian wahyu itu terdistorsi
karena ulah manusia yang melakukan perubahan dan  penambahan
terhadap   kitab   tersebut   yang  mengakibatkan  timbulnya
kepercayaan  akan  inkarnasi,   penyaliban,   kematian   dan
kebangkitan  Nabi  Isa  a.s.  serta  doktrin penebusan dosa.
Bibel  Yahudi  atau  Perjanjian  Lama  dan  Perjanjian  Baru
Kristen diyakini sebagai versi wahyu Ilahi yang sudah rusak.
Kemudian Tuhan menurunkan wahyu sekali lagi kepada Muhammad,
Nabi  yang  paling akhir. Inilah yang kemudian menjadi dasar
kepercayaan orang-orang Islam bahwa Al-Quran, yang dipandang
sebagai   Firman   Tuhan   yang   sempurna,   lengkap,  yang
menggantikan kitab suci Kristen dan Yahudi.
 
Catatan kaki:
[1]:
Untuk perspektif kesarjanaan Barat, lihat Francis E. Peters,
Children of Abraham (Princeton, N.Y.: Princeton University
Press, 1982). Untuk melihat teks dasar (basic texts)
mengenai ketiga sistem religius yang ditempatkan sejajar
dengan masalah-masalah umum ini, lihat Judaism, Christianity
and Islam The Classical Text and Their Interpretation, oleh
pengarang yang sama, 3 Jilid (Princeton, N.Y.: Princeton
University Press, 1990).
[2]:
Sebagai pengantar untuk mengenali Islam sejak masa awal
komunitas Muslim hingga sekarang, lihat John L. Esposito,
Islam, the Straight Path, edisi yang diperluas (New York:
Oxford University Press, 1991); Frederick Mathewson Denny,
An Introduction of Islam (New York: Macmillan, 1985); Fazlur
Rahman, Islam (Chicago: University of Chicago Press, 1979).
Sumber. 

TASAWUF DAN SPIRITUALITAS ISLAM

 
 
Dengan   peran   hukum   Islam   yang   preskriptif    dalam
mendefinisikan   Islam  yang  sah  dan  kecenderungan  dalam
tahun-tahun terakhir untuk memusatkan perhatian  pada  Islam
politik,  maka tradisi spiritual dan tasawuf yang kaya, yang
telah  menjaga  kehidupan  para  Muslim   dan   menghasilkan
penyebaran Islam secara efektif ke banyak penjuru dunia akan
terabaikan.  Tradisi  hukum  resmi,  dengan  bimbingan   dan
hukumannya yang khas, selalu disertai jalan dan pencarian ke
dalam. Teks hukum diimbangi dengan penekanan atas jiwa  iman
Islam.
 
Tasawuf  dimulai sebagai gerakan pembaruan.[1] Bagi sebagian
Muslim taat, kemegahan  dan  kekayaan  yang  diperoleh  dari
penaklukan yang mengubah kehidupan sederhana di Arab menjadi
kehidupan istana Damaskus, mengancam agama dan  moral  umat.
Kerajaan  manusia,  dengan  dunia  sebagai  pusat perhatian,
tampaknya telah mengaburkan kerajaan Tuhan, pusat  perhatian
sejati  dan  pusat  kehidupan  kaum  Muslim. Dalam pandangan
sufi, kemenangan  Islam  telah  membahayakan  Islam.  Seraya
berseru  agar  kembali memusatkan perhatian kepada kebenaran
akan  kehidupan  nanti  dan  bukannya  kesenangan-kesenangan
serta    kekayaan-kekayaan    kehidupan   ini,   para   sufi
menyampaikan pesan kesederhanaan  dan  pelepasan  diri  dari
hal-hal    duniawi.   Kesederhanaan   ini   perlu   ditambah
spiritualitas yang menekankan cinta  kepada  Tuhan.  Tasawuf
menawarkan  jalan  menuju  Tuhan,  yaitu  jalan ketaatan dan
kasih sayang yang cinta dan pengabdiannya kepada Tuhan  yang
melengkapi  dan  kadang-kadang  memberikan  tantangan kepada
pendekatan melalui kitab suci dan hukum. Karena  itu  Muslim
yang  baik  tidak  hanya orang yang mengikuti kehendak Tuhan
melalui ketaatan pada hukum, tetapi juga orang yang  beriman
yang  berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan dengan berbagai
cara seperti bertafakur, untuk merasakan kehadiran Tuhan.
 
Paduan antara tasawuf dan  ketaatan  mengubah  tasawuf  dari
gerakan elite urban yang relatif kecil ke gerakan kerakyatan
yang luas yang masyarakatnya menarik  banyak  pengikut  dari
segala   kelas   sosial   dan   latar  belakang  pendidikan.
Kelompok-kelompok sufi, yang berkumpul di  sekitar  pemimpin
spiritual  (syaikh),  membentuk  persaudaraan  atau tarekat.
Dari abad ke-12 hingga  14,  persaudaraan-persaudaraan  sufi
diubah   dari   perkumpulan   sukarela  yang  kecil  menjadi
persaudaraan   yang    terorganisasi    memiliki    jaringan
internasional  pusat-pusat  yang  tersebar  ke seluruh dunia
Islam. Mereka menjadi mujahid besar Islam, yang  bertanggung
jawab  untuk  keefektifan  penyebarannya. Di Afrika dan Asia
Tenggara Islam disebarkan terutama  oleh  persaudaraan  sufi
dan  pedagang  dan bukan oleh tentara Islam. Tasawuf membawa
pesan    Islam    yang    ajaran-ajaran     mistik     serta
praktek-prakteknya  terbukti  menarik perhatian banyak orang
dan terbuka untuk  berhubungan  dengan  adat-istiadat  serta
tradisi  agama  setempat.  Jika  Islam yang resmi seringkali
menekankan  pelaksanaan  yang  tepat  atas  hukum,   tasawuf
memberikan  sebuah  alternatif  tradisi  yang  fleksibel dan
terbuka untuk asimilasi dan sintesis. Pengaruh-pengaruh luar
diserap  dari  Kristen,  Neoplatonisme,  Hindu,  dan  Budha.
Ketika tasawuf menjadi gerakan besar,  terjadi  pertentangan
dengan   para   ulama   yang  otoritasnya  dalam  masyarakat
ditantang oleh kepopuleran dan keberhasilan para sufi karena
para   ulama   dan   pemimpin   sufi  kerap  bersaing  untuk
mendapatkan pengaruh.
 
[1]:
Untuk pengantar mengenai tasawuf, lihat Annemarie Schimmel,
The Mystical Dimensions of Islam (Chapel Hill: University of
North Carolina Press, 1975); AJ. Arberry, An Introduction to
the History of Sufism (London: Longman, 1942); Martin Lings,
What is Sufism? (Berkeley:  University  of  Carolina  Press,
1977). 
Sumber.